Saksi Sidang Mustafa Jelaskan Alur ‘Kocok Bekem’ Proyek Lamteng

  • Bagikan
Sebanyak empat orang dihadirkan di persidangan lanjutan suap fee proyek di Dinas Bina Marga Lampung Tengah (Lamteng) dalam sidang mantan Bupati Lamteng Mustafa yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang Kamis (18/2). Keempat saksi yang dihadirkan yakni Indra Erlangga selaku Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Bina Marga dimana sebagai Sekretaris ULP. Lalu Supranowo PNS di Dinas Bina Marga, Khairul Rozikin Kasi Perencanaan Wilayah Timur dan Ilham Madjid selaku PNS di Dinas Perkim Lamteng.Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID- Perkara suap fee proyek dengan terdakwa mantan Bupati Lampung Tengah Mustafa, berlanjut. Dalam sidang yang digelar Kamis (18/2), sebanyak empat saksi dihadirkan.

Mereka yakni Indra Erlangga PNS Dinas Bina Marga Lamteng yang pernah menjabat Sekretaris ULP. Kemudian Supranowo (PNS Dinas Bina Marga Lamteng) dan Khairul Rozikin Kasi Perencanaan Wilayah Timur dan Ilham Madjid PNS di Dinas Perkim Lamteng.


Indra juga membeber, cara rekanan mendapat plotting proyek dan bisa menang. “Jadi setelah ploting itu dilakukan, kami memberikan nama rekanan itu ke Pokja masing-masing. Gunanya untuk mereka bisa (menang) lelang pekerjaan,” kata Indra, Kamis (18/2).

Setelah itu, pokja akan membantu rekanan-rekanan untuk memenangkan proyek. “Istilahnya kocok bekem,” kata Taufik.

Sebelum dilakukan lelang, pihaknya melalui Pokja memberikan terlebih dahulu syarat untuk berkaitan mengenai teknis pada saat lelang dilaksanakan. “Seperti syarat administrasi secara teknis ini tentunya dilakukan sebelum proses lelang. Agar rekanan itu menyiapkan file dulu sebelum lelang. Artinya mereka di ketahui dulu sebagai pemenang. Artinya mencuri start terlebih dahulu,” kata dia.

Jika ada penawaran lain dan lebih bagus masuk namun tidak menyertakan fee proyek, maka rekanan yang telah menyetor diminta bernegosiasi. Atau meminta agar rekanan yang juga ikut lelang tanpa bayar fee proyek itu mundur.

“Kalau ada penawaran lebih bagus. Kami berkomunikasi ke rekanan agar bernegosiasi sendiri (ke rekanan lain) bisa jadi meminta rekanan itu untuk mundur dan tidak ikut lelang. Kami biasanya menyarankan ke rekanan yang sudah setor fee itu untuk memberikan uang ke rekanan yang berkasnya bagus itu, agar proses lelangnya gagal,” jawab Indra.

Indra menyatakan, beberapa kali bertemu Mustafa untuk berkoordinasi terkait fee proyek. Antara lain di rumah dinas bupati, Metro, Bandarlampung dan Jakarta. “Ya memang diketahui (Mustafa). Dimana pribadi saya pernah diajak oleh Taufik Rahman menghadap beliau (Mustafa) di rumah dinas. Tujuannya ini untuk koordinasi mengenai uang yang sudah dikumpulkan dan dikeluarkan oleh kami. Tetapi hanya Taufik Rahman saja, penjelasannya yakni menyampaikan bahwa tentang rekanan yang telah memberikan uangnya termasuk pengeluaran-pengeluaran kemana saja uang fee tersebut,” jelas Indra.

Saat bertemu Mustafa di Kota Metro, lanjut Indra, Mustafa minta agar Taufik Rahman dan dirinya mengakomodir para rekanan. Termasuk juga mengakomodir wartawan, LSM dan tokoh masyarakat Lamteng. Taufik dan Indra diminta agar memberikan paket pekerjaan gratis tanpa fee proyek. Selain itu, Mustafa juga meminta agar terkait permainan proyek ini jangan sampai ada gejolak. “Yang tidak menyetorkan ijon itu wartawan dan LSM dan tokoh masyarakat pun bisa di akomodir untuk dapat proyek,” beber Indra.

Mustafa juga pernah marah lantaran uang fee proyek diberikan ke orang dekatnya, Erwin. “Saat itu Taufik melaporkan jumlah uang masuk dan dikumpulkan pun pengeluarannya. Beliau terkejut karena posisi dikumpulkan itu sudah cukup banyak dan diberikan ke ajudan dia (Erwin). Beliau agak marah dari nada bicaranya,” kata dia, Kamis (18/2).

Mustafa mempertanyakan mengapa uang tersebut dikeluarkan. Dan disampaikan Indra bahwa uang tersebut diberikan ke beberapa rekan dekat Mustafa. Termasuk ke Erwin. Sementara, lanjutnya, Erwin sendiri meminta uang atas perintah Mustafa. Bukan atas kemauannya pribadi. “Sempat waktu itu Erwin sampaikan ke saya bahwa Erwin pernah ditanya terkait uang yang dari kami. Erwin menyampaikan bahwa yang melakukan itu atas perintah (Mustafa) bukan atas saya (Erwin) sendiri,” kata dia. (ang/wdi)




  • Bagikan