Sampah Menumpuk di Alirian Way Belau, Lurah Kota Karang: Itu dari Pasar Cimeng

  • Bagikan
Sampah menumpuk di aliran sungai di Jalan Teluk Bone, tak jauh dari Kantor Kelurahan Kotakarang, Telukbetung Timur, Bandarlampung, Senin (7/6). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Guna mengantisipasi banjir di Bandarlampung, Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana sejak awal kepemimpinannya telah menyerukan program Grebek Sungai atau bersih-bersih sungai. Grebek sungai dilakukan di aliran-aliran sungai yang melintasi Kota Tapis Berseri.

Namun meski, program tersebut telah digaungkan, masih saja ditemukan sampah-sampai di sungai. Salah satunya tampak di aliran Sungai Way Belau, yang melintasi perbatasan Kelurahan Pesawahan dan Kota Karang.

Terpantau dari Jembatan Beton Jalan Laksamana R.E. Martadinata sampai ke muara sungai Way Belau yang melintasi samping Kantor Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Telukbetung Timur (TbT), masih ditemukan sampah-sampah plastik maupun rumah tangga mengapung di aliran sungai ataupun yang tersangkut di tepiannya.

Baca Juga:   Pemprov Dukung Forum RPJMD Kota Bandarlampung

Plt. Lurah Kota Karang Bambang saat dikonfirmasi mengatakan, kelurahannya berada di hilir atau muara sungai. Pihaknya mengaku rutin melaksanakan program grebek sungai yang dilaksanakan setiap Selasa dan Jumat, dengan mengerahkan pamong dan warga setempat. Giat tersebut dilakukan dari jembatan beton sampai di ujung jembatan Pulau Pasaran.

Namun, dirinya mengklaim bahwa daerah Kota Karang terkena dampak pembuangan sampah ke sungai oleh masyarakat, yang berasal dari hulu sungai. Di mana menurutnya, air di atas atau hulu sungai ini berasal dari Kali Akar yang mengalir melintasi Pasar Cimeng.

“Nah, ketika air pasang, sampah lari ke sini (Kota Karang, red), jadi seolah masyarakat Kota Karang buang sampah sembarangan. Padahal sampah dari pasar. Ditambah posisi sungai juga tidak beruntung. Karena di daerah Kota Karang alirannya menikung. Ketika masyarakat Pesawahan buang sampah, ikut aliran air dan jatuh ke Kota Karang,” jelasnya kepada Radarlampung.co.id, Senin (7/6).

Baca Juga:   TP4D Bandarlampung Kembali Segel Tujuh Tempat Usaha, Tiga di Antaranya Hotel

Permasalahan ini, lanjut Bambang, telah terjadi sejak lama, bahkan dulu sempat dipasang jaring untuk menghalau sampah, namun hilang. “Upaya yang kita lakukan saat ini saat Selasa dan Jumat bersih sampai menyewa perahu tiga untuk menyerok sampah-sampah di sungai, dari Jembatan Beton ke Jembatan Pulau Pasaran, namun belum sampai selesai sampah sudah datang lagi,” ucapnya.

Langkah antisipasi yang dilakukan, kata Bambang, selain dengan membersihkan aliran Way Belau, juga dipasang papan-papan imbauan larangan membuang sampah sembarang. “Tapi ini kan sudah lintas wilayah. Kalau masyarakat Kota Karang tidak buang sampah ke sungai. Karena kita perdayakan Sokli. Jadi sampah masyarakat diangkut Sokli,” tuturnya.

Untuk tingkat pimpinan, dirinya menambahkan telah rutin mengadakan koordinasi. Namun, menurut Bambang kesadaran sejumlah masyarakat yang masih rendah. “Marih kita bersama-sama menjaga lingkungan kita, untuk kebaikan bersama. Memang kalau hujan biasa tidak menimbulkan luapan. Tapi kalau dari daerah Batuputu hujan deras dan air laut pasang akan tumburan dan meluap,” paparnya. (pip/sur)



  • Bagikan