Satpol PP Setop Pembangunan Gedung Swalayan PB 21

  • Bagikan
Satuan Polisi Pamong Paraja (Satpol PP) Metro menghentikan aktivitas gedung 2 lantai milik swalayan PB 21 Metro, Selasa (2/7). FOTO SATPOL PP METRO FOR RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Belum kantongi izin mendirikan bangunan (IMB), gedung dua lantai milik swalayan PB 21 Metro resmi dihentikan. Penghentian dilakukan Satuan Polisi Pamong Paraja (Satpol PP) Metro, Selasa (2/7).

Kepala Satpol-PP Metro Imron kepada Radar Lampung mengatakan, penghentian segala aktivitas pembangunan dilaksanakan atas perintah Pemkot Metro. Hal ini tindak lanjut dari laporan warga yang diterima Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Metro.



Dengan demikian, dirinya mengimbau kepada pemilik bangunan agar menyelesaikan perkara perizinan langsung ke DPMPTSP Metro. “Pembangunannya ilegal, karena dibangun tanpa mengantongi IMB dan warga sekitar menyatakan keberatan atas pembangunan tersebut,” uajrnya.

Imron mengimbau kepada pengusaha di Metro agar selalu taat aturan dalam melaksanakan pembangunan, karena apabila ilegal sudah menjadi kewenangan Satpol PP untuk melakukan tindakan atas hal yang dapat merugikan masyarakat sekitar.

“Sementara ini segala aktivitas pembangunan dihentikan, sampai mereka mengantongi IMB,” pungkasnya.

Disisi lain, Kasi Penyidikan dan Penyelidikan Satpol PP Metro Marwan Hakim yang memimpin penghentian pekerjaan pembangunan swalayan PB21 mengatakan, sebelumnya pihaknya telah memantau pembangunan perluasan tempat usaha berlantai 2 itu.

“Kami sebagai penegak Perda harus tegas dan menghentikan aktivitas para pekerja dan selanjutnya diimbau pada pihak swalayan untuk secepatnya menyelesaikan izin dasar atau lingkungan,” ujarnya.

Dijelaskankannya, penghentian sifatnya hanyalah sementara dan diharapkan pada pihak swalayan juga dapat menyelasaikan permasalahan ini dengan musyawarah mufakat kepada warga sekitar.

“Tak hanya itu saja yang berkaitan dengan GSB (Garis Sempadan Bangunan) juga harus diperhatikan. Mengingat lokasi perluasan PB21 di lingkungan yang terbilang cukup ramai juga dekat sekali dengan sekolah yang harus memperhatikan zona sekolah,” tambahnya.

Salah satu pengakuan warga sekitar, Marwan, dirinya merasakan langsung dampak pembangunan swalayan. Dirinya merasa tak setuju dengan bangunan tersebut, warga merasa dibohongi yang sebelumnya dikatakan hanya membangun tempat parkir saja.

Namun, nyatanya pembangunan berlantai 2 juga sangat mepet dengan tembok rumahnya. Dia khawatir bila hujan air dari tembok yang menjulang tinggi itu pasti akan merendam pondasi rumahnya.

“Karena tak ada lagi tempat pembuangan air akibat pembangunan ini, dan saya juga menilai kontruksi bangunan ini sangat diragukan kekuatannya,” katanya.

Menurutnya, pondasi bangunan untuk berlantai 2 ketebalan dan kedalamannya diduga sangat tidak sesuai, yang dikhawatirkan suatu saat bisa ambruk, karena tak sesuai material yang dibangun. (apr/sur) 






  • Bagikan