“Saya Jualan Cuma Buat Makan!”

  • Bagikan
Neti (63) pedagang mainan yang tetap berjualan demi kebutuhan makan sehari hari di kawasan pertokoan Pasar Tengah, Tanjungkarangpusat, Bandarlampung, Selasa (13/7). FOTO M. TEGAR MUJAHID/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Matanya menatap lurus. Memandang ke arah jalanan. Sesekali wanita berambut pendek itu mengusap wajah. Lalu menopangkan dagu.

Dia adalah Neti, wanita 63 tahun yang tetap memaksakan berjualan mainan di pinggir Jalan Pangkal Pinang, Tanjungkarang Pusat. Persis di depan pertokoan yang tutup. Sendirian.

“Sepi,” cetus wanita yang mengenakan kaus panjang biru itu.

“Sebenarnya saya sudah dilarang jualan. Tapi harus tetap jualan. Hari ini,” tegas Neti, Selasa (13/7).

Wanita yang memiliki dua anak ini mengaku sudah diingatkan agar tidak berjualan oleh petugas. Terlebih saat penerapan PPKM Darurat di Bandarlampung yang dimulai Senin (12/7).

Namun ia berkeras. Tidak punya pilihan. “Saya mau bagaimana? Kalau tidak jualan, saya tidak bisa beli makan,” ucapnya.

Baca Juga:   Duh, Ada Pimpinan DPRD Bandarlampung Dikabarkan Isoman

Neti mengaku menumpang di rumah kakaknya di Gang Langgar, Tanjungkarang Pusat. Ia di sana setelah sang suami meninggal pada 1993 silam.

Sebenarnya ia memiliki dua anak. Namun mereka bekerja dan tinggal di Kalimantan. “Saya, ya numpang di rumah kakak. Di Gang Langgar,” sebut nenek lima cucu ini.

Tangan keriput wanita itu sesekali menyentuh mainan. Lantas ia kembali bercerita. Saat normal, Neti mengaku bisa mendapatkan omzet Rp75 ribu hingga Rp150 ribu.

“Dulu (sebelum pandemi virus Corona,” kata Neti seakan mengenang.

“Saya cuma berharap (pandemi virus Corona) cepat berakhir. Nggak pa-pa dilarang jualan. Yang penting kami dibantu makan aja. Saya jualan cuma buat makan,” kata Neti pelan. (gar/ais)

Baca Juga:   Rekor Baru, Unila Sembelih 29 Ekor Hewan Kurban

 




  • Bagikan