Sejumlah Sekolah di Bandarlampung Sudah Gelar Pembelajaran Tatap Muka

  • Bagikan

Radarlampung.co.id – Sebanyak 24 sekolah di Kota Bandarlampung yang terdiri dari Sekolah Dasar Negeri (SDN), SDS dan MI melaksanakan simulasi pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Bandarlampung, Senin (13/9). Salah satunya siswa-siswi di SDN 2 Rajabasa Bandarlampung, mulai melakukan uji coba pembelajaran tatap muka.

Pantauan radarlampung.co.id di lokasi, sejumlah siswa mulai berdatangan sejak pukul 07.30 Wib, dari gerbang petugas sudah mulai memeriksa cek suhu kehadapan siswa-siswi. Tiba didepan kelas siswa-siswa diwajibkan mencuci tangan sebelum masuk kelas masing- masing.


Sesampainya di dalam kelas, para siswa langsung duduk berjarak. Kapasitas kelas hanya terisi 50 persen dari kondisi normal.Setiap siswa yang hadir diwajibkan untuk memakai masker. Bahkan beberapa siswa juga turut menggunakan face shield saat mengikuti pembelajaran.

Baca Juga:   Bupati Sujadi Ingatkan Prioritas Keselamatan Guru dan Siswa

Dalam hari pertama tatap muka setelah kurang lebih satu setengah tahun sekolah dalam jaringan (daring) ini, para siswa turut antusias.

Kepala SDN 2 Rajabasa Bandarlampung Harmiyati mengatakan, dalam pelaksanaan tatap muka perdana ini, secara keseluruhan berjalan lancar. Total ada 138 siswa siswi yang diizinkan orang tuanya, untuk ikut belajar tatap muka ini.

“Hari ini masuk ada 138 siswa, dengan menerapkan protokol kesehatan dan dibagi tiga jadwal. Sebelum ini, semua program dan kurikulum berjalan tetap, bahkan Tim Satgas Protokol Kesehatan (Prokes) sudah diperbaharui,” kata Harmiyati.

Selain itu, sarana dan prasarana di sekolah juga turut diperbaharui dan ditambah. Sebelumnya pihak sekolah juga sudah berkomunikasi dengan wali murid, terkait izin yang diberikan dalam bentuk surat pernyataan.

Baca Juga:   SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Metro Kembali Juara 1 Provinsi

“Surat itu dibawa ke sekolah, nanti saat pulang diberikan lagi surat izin untuk diisi wali murid mereka. Ini kami memakai gelombang, mereka dipakaikan nomor urut, jika tidak diizinkan berarti mundur lagi, agar tersusun dan terjadwal,” katanya.

Ditempat yang sama Aliza Sabilah (12) salah satu siswa kelas 6, mengaku awalnya sempat gugup, namun, setelah kelas berlangsung setangah jam, suasana belajar menjadi seru.

“Karena baru jadi gugup, tapi lama kelamaan nggak gugup lagi, yang bikin seneng bisa ketemu temen lama-lama jadi makin seru,” katanya. (gar/ang)




  • Bagikan