Semakin Tersisih, Setiap Malam Menjerit Kesakitan..

  • Bagikan

Tak hanya menggerogoti jari tangan dan kaki, penyakit kusta yang diderita Jupriadi merusak organ lain seperti alat kelaminnya. Dengan terpaksa, pihak keluarga mulai membatasi kontak fisik dengan Jupriadi. Setiap malam, Jupriadi pun menjerit kesakitan.

Laporan : Andi Apriyadi     radarlampung.co.id

Sudah 14 tahun Jupriadi (28) warga Jalan Ikan Baung, Rt 028, LK 2, Kampung Tanjung Raman Witan, Kelurahan Bumi Waras, Kecamatan Bumi Waras, Bandarlampung menderita penyakit kusta.

Menurut Jumairah, ibu Jupriadi, ia mengaku sangat sedih melihat kondisi anaknya saat ini. Dimana penyakit kusta yang menyerangnya sudah menjalar ke bagian alat kelaminnya. Bahkan pihak keluarga pun terpaksa membatasi beberapa keperluan anaknya tersebut.

“Jujur saja saya sedih banget lihat kondisinya. Saya juga terpaksa memisahkan beberapa barang keperluan dia, seperti piring untuk dia makan dan gelas minumnya. Dia juga tidurnya dibelakang, kalau lihat kondisi kamarnya baunya itu nggak enak. Kalau malam juga dia sering menjerit kesakitan,” kata dia, Minggu (24/6).

Baca Juga:   Kasus Pertama, Nakes di Lambar Meninggal Akibat Covid-19

Pihak keluarga berharap Jupriadi dapat sembuh dari penyakit kusta yang telah lama dideritanya dan meminta kepada pemerintah dapat membantu serta membujuk Jupri untuk di rawat.

“Saya sangat berharap kalau ada yang mau bantu untuk penyebuhan anak saya. Siapa yang mau lihat anaknya kena penyakit, keluarga berharap dia sehat, makanya saya minta tolong banget agar dapat membujuk Jupri ini untuk dirawat,” tandasnya.

Jupri dan keluarga tinggal di sebuah rumahnya yang sungguh memprihatinkan. Dia tinggal bersama kedua orangtuanya dan keempat adiknya kurang lebih sudah hampir tiga tahun.

Anak pertama pasangan suami istri Sarman dan Jumairah ini, sehari-hari bekerja sebagai pengemis di Pasar Gudang Lelang, Telukbetung Selatan. Pekerjaan tersebut dilakoninnya untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Terakhir dia berobat tahun 2014 di rumah sakit daerah, tapi pengobatan dia selalu mengamuk katanya nggak mau disuntik. Dari situlah dia sudah nggak diobatin lagi, katanya juga kalau dia dirawat lagi siapa yang cari duit untuk keperluan keluarga, dia itu memang sayang banget dengan keluarga,” paparnya.

Baca Juga:   Positif Covid-19 di Tanggamus Tambah 66 Kasus, Empat Meninggal Dunia

Pihak keluarga tidak pernah meminta Jupri bekerja sebagai pengemis. Tapi, semua itu atas kemauan putranya sendiri.

“Sebagai orangtua kami nggak mau lihat anak kerja jadi pengemis. Tapi itu kemauan dia, katanya mau kerja apalagi karena kedua jari tangannya sudah nggak ada lagi. Ya mau gimana lagi,” jelasnya pasrah.

Dia mengungkapkan, Jupri merupakan tulang punggung keluarga saat ini, karena bapaknya sebelum sakit-sakitan berkerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Dia ini sekarang tulang punggung kami, karena sekarang bapak lagi sakit dan hanya tergeletak di dalam kamar saja. Sedangkan saya hanya ibu rumah tangga juga kerja-kerja membantu rumah tangga. Kalau adik-adiknya masih kecil-kecil dan belum kerja,” ungkapnya. (gus)




  • Bagikan