Semua Biaya Ditanggung Padepokan, Ada Latihan Hari Terberat

  • Bagikan
Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengalungkan medali kepada atlet Lampung yang meraih medali emas di even Kejuaraan Invitnas Remaja Junior Angkat Berat Klasik 1 Tahun 2021. Foto Rizky Panchanov/Radarlampung.co.id 

Padepokan Gajah Lampung dalam mengorbitkan atlet angkat besi dan angkat berat hingga ke kancah dunia sudah tidak diragukan lagi. Prestasi yang diraih itu tidak mudah didapatkan bagi atlet yang ditempa di padepokan itu.

Laporan Rizky Panchanov/PRINGSEWU

Kemarin, Lampung menjadi tuan rumah Kejuaraan Invitasi Nasional (Invitnas) Remaja Junior Angkat Berat Klasik 1 Tahun 2021 yang diadakan di Padepokan Gajah Lampung. Invitnas ini diikuti 13 provinsi di Indonesia.
Di sela acara yang dibuka Gubernur Lampung Arinal Djunaidi itu, Radarlampung.co.id berbincang dengan Edi Santoso, anak sang pendiri padepokan Imron Rosadi.

Sejatinya, wartawan koran ini hendak mewawancarai Imron, tapi kondisi kesehatannya tak memungkinkan di siang itu. Setelah acara seremoni selesai, dengan menggunakan kursi roda, pria 77 tahun itu masuk ke dalam rumahnya yang juga masih satu kompleks dengan padepokan untuk beristirahat.

Edi menjelaskan, saat ini padepokannya memiliki 40 atlet. Masing-masing 20 atlet angkat berat dan 20 atlet angkat besi. “Itu termasuk 18 atlet yang hendak angkat besi dan angkat berat yang akan turun di PON Papua,” ungkap Edi. 40 atlet pilihan itu, ujarnya, merupakan pilihan langsung dan menjadi tim inti. Mereka tinggal di mess yang disediakan di padepokan.

Sedangkan bagi atlet senior yang sudah menikah mereka tidak tinggal di situ.

Sebenarnya, atlet dua cabang olahraga (cabor) angkat besi dan angkat berat di padepokan ini ada banyak, mulai dari usia 10 tahun hingga usia senior. Tapi atlet yang tidak masuk dalam tim inti harus pulang pergi.

Baca Juga:   Siapkan Atlet Unggul untuk Porprov IX

Untuk masuk menjadi atlet binaan Padepokan Gajah Lampung tidak mudah. Edi mengatakan bahwa pihaknya memiliki kriteria khusus, yakni niat dan kesungguhan si calon atlet.

“Ya kalau mau jadi atlet di sini tidak ada penataran khusus. Ya mengalir saja, selama dia latihan kita lihat kemauan, keuletan, dan keahliannya. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, kita lihat sampai mana kesungguhannya,” kata Edy.

Pria yang akrab disapa Ko Tungtung ini melanjutkan, jika dirasa niat dan kesungguhannya serius, pihaknya akan merekrut calon atlet. Menariknya, menjadi atlet di padepokan gratis dan justru mendapat gaji.

Untuk anak-anak dan remaja, padepokan memberi mereka uang transport. “Macam-macam, ada yang seminggu kita kasih Rp25 ribu. Ini kita diberikan supaya memacu semangat mereka,” ungkap Ko Tungtung.

Jika terpilih menjadi tim inti, atlet akan mendapatkan gaji. Semua keperluan selama di mess ditanggung, termasuk makan.

Bicara makan, di padepokan Gajah Lampung tidak menggunakan nutrisionis alias ahli gizi. Di padepokan ini, ujar Edi, gaya pembinaannya benar-benar masih menggunakan cara tradisional dan tidak menggunakan metode Sport Science.

“Nggak ada (Nutrisionis) gitu-gitu, kita mah hukum alam aja, kalau laper ya makan. Di sini mereka makan disediakan katering, kebetulan adik saya sendiri kateringnya,” selorohnya.

Nah, dalam melakukan pembinaan atlet, padepokan menilainya dengan tolok ukur prestasi individu. Ia mencontohkan, seperti salary atau pendapatan. Meski atlet usianya sama, tapi salary atau pendapatan boleh beda. “Termasuk uang makan berbeda. Mulai dari Rp45 ribu per hari per anak sampai Rp80 ribu per hari. Semua tergantung prestasi,” sebutnya.

Baca Juga:   Siapkan Atlet Unggul untuk Porprov IX

Latihan pun terus digeber walau tidak ada kejuaraan. Menurut Edi, atlet di padepokannya harus siap sedia meski tidak ada kejuaraan yang akan dihadapi. Sesi latihan dalam seminggu lima hari. Kecuali Kamis dan Minggu libur.

“Libur ini supaya otot mereka ada waktu istirahat. Jadi nggak setiap hari, kalau setiap hari latihan nanti bisa cidera,” sambungnya. Dalam lima hari itu, ada hari di mana ada waktu sesi latihan terberat. “Hari Jumat hari berat. Artinya di hari itu mengangkat beban paling berat dibanding hari biasa,” kata pria yang juga pelatih PON ini.

Ditanya apakah padepokan menyisir penjuru Lampung untuk mencari calon lifter berprestasi, diakui Edi dahulu cara itu pernah dilakukan di setiap-setiap sekolah di Lampung. Bahkan pernah mencapai jumlah ribuan siswa. “Dari seribu itu yang serius cuma tiga anak. Semuanya rontok. Mundur satu per satu. Makanya sekarang kita tidak lagi seperti itu. Yang niat mau jadi atlet ya mereka yang datang ke sini,” tandasnya.

Ya, dalam kegiatan Invitnas itu, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi meminta KONI Lampung fokus mengembangkan cabor angkat berat dan angkat besi. Cabor ini jelas-jelas menjadi andalan Lampung karena terbukti sudah mengharumkan nama Lampung dan Indonesia di kancah dunia.

“Pak bupati (Sujadi), KONI, tolong untuk padepokan ini diperhatikan. Kalau bola kayaknya berat kita ngalahin Jawa. Tapi yang di depan mata adalah angkat berat dan angkat besi. Kita harus konsen di sini. Jangan sampai kita yang bina atletnya, tau-tau diambil sama provinsi lain,” kata Arinal dalam sambutannya.

Baca Juga:   Siapkan Atlet Unggul untuk Porprov IX

Yusuf Barusman, Ketum KONI Lampung mengapresiasi Arinal dalam keseriusannya di bidang olahraga. Salah satu bukti nyatanya, Arinal memberikan uang tali asih kepada Citra Febrianti lifter Lampung yang mendapat medali perak di Olimpiade London 2012 lalu. Kegiatan ini, kata Barusman, juga akan dijadikan KONI Lampung untuk mencari bibit calon lifter berprestasi.

Sedangkan Anna Moria, Ketua Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) menjelaskan, even Invitnas ini merupakan kegiatan perdana yang dihelat di Lampung. Kejuaraan ini, kata wanita yang juga anak kedua Imron Rosadi ini, diharapankan bisa menjadikan Lampung sebagai tuan rumah kejuaraan angkat besi Asia yang akan datang.

Diketahui, even Invitnas itu digelar hingga 9 Juni mendatang. Kemarin, atlet Lampung menyabet beberapa medali. Seperti di antaranya, di angkatan Squat 53 kg tingkat remaja putra M Farhan dan Leo Agung Setiawan dari Lampung mendapatkan medali emas dan Perak. Mereka mengalahkan M. Farel Fahrezi dari Jawa Barat. Sedangkan untuk angkatan mendapat medali emas dan perak diangkatan Dead Lift kelas 53 Kg.

Lalu angkatan terbaik kelas 53 kg tingkat junior putra didapat oleh R Radion Azhari P, dari Jambi yang mendapatkan medali emas, Edi Hutabarat asal Sumut mendapat medali perak, dan M. Junaidi Jambi meraih perunggu. (*)



  • Bagikan