Setahun, Ratusan Wanita di Lambar-Pesbar Jadi Janda

  • Bagikan
Inspektur Lampung, Syaiful Dermawan

radarlampung.co.id – Angka perceraian di Lampung Barat dan Pesisir Barat cukup tinggi. Berdasar data dari Pengadilan Agama Krui, sepanjang 2018, tercatat  542 kasus yang ditangani perceraian. Rinciannya, 480 perkara yang masuk pada 2018. Sisanya diajukan tahun sebelumnya.

”Sebanyak 542 perkara yang kami tangani itu berasal dari Lambar dan Pesisir Barat,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Krui Sumarjo mewakili Ketua Pengadilan Agama Krui Omay Mansur, Kamis (24/1).

Menurut dia, 480 perkara perceraian yang masuk sepanjang 2018, terdiri dari cerai talak (CT) sebanyak 117 perkara, dan cerai gugat (CG) 363 perkara. Dari jumlah itu, 46 perkara cerai dimediasi. Namun hanya sempat perkara yang berhasil.

Baca Juga:   BUMN Bantu Sulap Wisma Haji Rajabasa Jadi RS Darurat Covid-19

“Upaya mediasi rata-rata sulit berhasil karena setiap perkara yang didaftarkan umumnya sudah mencapai puncak permasalahan. Kedua belah pihak tidak mau rujuk lagi,” sebut dia.

Dilanjutkan, penyebab perceraian rata-rata karena faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) serta hadirnya pihak ketiga.

Sumarjo mengungkapkan, dari perkara yang masuk, 52 di antaranya diajukan pegawai negeri sipil (PNS). ”Kalau kita lihat dari perkara yang masuk, jumlah kasus perceraian antara Lambar dan Pesisir Barat imbang,” ungkapnya.

Selain menerima 480 perkara perceraian, tahun 2018 lalu Pengadilan Agama Krui juga menangani isbad nikah (nikah massal) sebanyak 222 perkara, perwalian dua perkara, dispensasi anak menikah di bawah umur sembilan perkara, sengketa ahli waris tiga perkara, serta penetapan ahli waris tiga perkara. (lus/ais)

Baca Juga:   Kejari Lamsel Cek RSUD Bob Bazar, Tiga Obat Covid-19 Langka

 




  • Bagikan