Simak, Ini Pesan Pendiri NII Crisis Centre Kepada Warga Terpapar Radikalisme

  • Bagikan
Pendiri NII Crisisi Centre saat dialog Kebangsaan dalam membangun harmonisasi bangsa. Foto Dwi/Radarlampung.co.id
Pendiri NII Crisisi Centre saat dialog Kebangsaan dalam membangun harmonisasi bangsa. Foto Dwi/Radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Doktrin tentang kebijakan pemerintah yang dianggap melanggar atau bertentangan dengan perintah tuhan merupakan salah satu senjata kelompok radikal dalam merekrut anggota baru.

Demikian disampaikan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) krisis centre Ken Setiawan saat menjadi nara sumber pada diskusi kebangsaan dalam membangun harmoni bangsa di Balai Desa Banjarejo Kecamatan Batanghari Lampung Timur, Kamis (14/10).


“Saya dulu merupakan anggota kelompok radikal yang pernah menjadi buronan Densus 88 Anti Teror,” jelas Ken Setiawan.

Dilanjutkan, bagi yang menganut paham radikal, maka kelompok, golongan atau orang yang berbeda paham dianggap kafir.

Baik itu yang berbeda agama maupun seagama. Bahkan, orang tua yang berbeda paham juga dianggap kafir. Karenanya, harta  kelompok, golongan atau orang yang dianggap kafir halal untuk diambil secara baik-baik maupun paksaan demi kepentingan kelompok radikal.

Ia melanjutkan, untuk merekrut anggota baru, kelompoknya tidak perlu menggunakan kekerasan atau paksaan.

Baca Juga:   Dewan Desak Eksektuif Segel Tower Seluler Ilegal

“Paling lama membutuhkan waktu jam, kami sudah dapat mengajak anggota baru. Cukup dengan doktrin tentang peraturan pemerintah yang dianggap melanggar perintah tuhan,” papar Ken Setiawan.

Lebih lanjut Ken Setiawan menjelaskan,  akhirnya dirinya menyadari paham radikal itu salah. Sebab, kenyataannya paham itu ternyata bertentangan dengan agama dan peraturan perundangan.

Sehingga, dirinya kembali mengakui NKRI. “Kini saya mengajak kelompok, golongan atau orang yang terpapar paham radikal untuk menyadari kesalahannya dan mengakui Pancasila danbkedaulatan NKRI,” lanjut Ken Setiawan.

Ditambahkan, banyak masyarakat yang terpapar paham radikalisme yang ingin sadar takut diteror oleh kelompok yang masih radikal. Selain itu, mereka juga malu dikucilkan masyarakat bila mengetahui dirinya terpapar paham radikal.

Karenanya, keberadaan NII Crisis Centre bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi eks warga terpapar paham radikalisme untuk sadar atas kesalahannya.

Baca Juga:   Sebanyak 559 CPNS Lamtim Dinyatakan Gugur

“NII bersama BNPT siap membantu mantan paham radikalisme untuk menyadari kesalahannya dan diterima masyarakat,” imbuh Ken Setiawan.

Diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) menggelar diskusi kebangsaan dalam membangun harmoni bangsa.

Acara yang digelar di Balai Desa Banjarrejo Kecamatan Batanghari Lampung Timur itu dihadiri Direktur Pencegahan BNPT Brigjend R.Ahmad Nurwahid, Pendiri negara islam Indonesia (NII) Crisis Centre Ken Setiawan, Chairman Radar Lampung Ardiansyah, Kapolsek Batanghari AKP Syamsu Rijal, Kepala Desa Banjarrejo Puspito.

Pada diskusi itu, Brigjend Ahmad Nurwahid mengajak peserta diskusi memahami tentang tauhid (ke esaan). Menurutnya, tuhan di alam itu hanya satu. Namun, penyebutan oleh masing-masing agama yang berbeda.

Karenanya, bagi yang menganggap tuhan antara agama yang satu dengan lainnya berbeda itu terindikasi paham radikalisme.

“Radikalisme mengatasnamakan islam adalah proxi untuk menghancurkan islam dan NKRI,” tegas Brigjend R. Ahmad Nurwahid. (wid/sur)




  • Bagikan