Soal Stunting, Indonesia Urutan Terendah Prevalensinya

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Stunting dan malnutrisi diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya 2-3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Hal itu ditegaskan Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Drs. Rudy Budiman dalam seminar nasional 100 Profesor Bicara Stunting di Aula kantor setempat, hari ini (5/7).

Menurutnya, prevalensi stunting 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan. Ini menunjukkan jika masalah stunting perlu ditangani segera. Dimana berdasarkan data Global Nutrition Report 2016, Indonesia berada pada posisi 108 dari 132 negara. ’’Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati prevalensi kedua setelah Kamboja,’’ terangnya.

Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30.8 persen atau sekitar 7 juta balita di Indonesia menderita stunting. ’’Yang berbahaya, stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya,’’ tandas Rudy.
Masalah gizi lainnya terkait stunting lanjut dia adalah anemia pada ibu hamil (48,9%); Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) (6,2%); balita kurus atau wasting (10,2%); dan anemia pada balita.

Baca Juga:   bank bjb Sabet Penghargaan Prestisius di Ajang Indonesia Financial Top Leader Award 2021

Karenanya, penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Dalam upaya percepatan penurunan stunting, pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Adapun indikator dan target penurunan stunting sebagai sasaran pembangunan nasional tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dan Rencana Aksi Nasional Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2017-2019.

Lebih jauh Rudy memaparkan, penanganan stunting di Indonesia khususnya Lampung akan dilakukan dalam kerangka pembangunan keluarga secara integral. Dimana, BKKBN sebagai badan yang bertanggung jawab dan mengetuai pelaksanaan percepatan penurunan angka stunting atau kekerdilan pada anak di Indonesia. ’’Hingga tahun 2024, penurunan stunting 14 persen dari angka 27,6 persen di tahun 2019,’’ tegasnya.

Baca Juga:   Satgas Covid-19 Provinsi Lampung Salurkan Bantuan Sembako

Tidak hanya itu, pemerintah juga akan menggandeng akademisi yang didalamnya terdapat para Guru Besar/Profesor yang tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai displin ilmu yang mampu memetakan dan mencari formula khusus untuk penangan stunting secara komprehensif.

’’Seminar ini juga merupakan telaah kritis terhadap penanganan stunting di Indonesia serta terobosan yang efektif dalam menentukan aksi cepat penangan stunting di level pusat maupun daerah,’’ pungkasnya.

Ketua Pelasana Seminar Nasional, Ir. Erismon, M.I.Kom.I., mengungkapkan, seminar tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, menyamakan persepsi, serta merumuskan isu-isu strategis terkait percepatan penurunan angka stunting. (nui/wdi)




  • Bagikan