Suntik Mati Layanan TV Analog, Ketua Presidium AMATI Nilai Terlalu Tergesa-Gesa


Kadis, Sekretaris, Hingga Kabid di Lamteng Wajib Uji Kompetensi, Siapa Saja ?
ILUSTRASI/FOTO NAWASIS.ORG

RADARLAMPUNG.CO.ID – Analog Switch Off (ASO) atau migrasi siaran TV analog ke digital dimulai terhitung sejak 1 Mei 2022. Sebanyak 38 lokasi tidak bisa menikmati siaran tv analog. Dan proses migrasi tersebut akan terus berlanjut.

Namun, penghentian siaran tv analog itu dinilai terlalu tergesa-gesa. Pasalnya, masih banyak masyrakat ekonomi menengah kebawah masih menggunakan TV Analog.





Dedi Suryadi, Ketua Presidium Asosiasi Muda Telematika Indonesia (AMATI) mengapresiasi dan dan mendukung percepatan dan transformasi digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI itu. “Namun tidak dapat dipungkiri bahwa TV Analog sebagai pendorong indeks tingkat rasa bahagianya masyarakat Indonesia, kalau milenial di perkotaan kanal streaming video jadi solusi mengurangi rasa jenuh dan stres”, katanya dalam siaran pers.

Baca Juga:   IDI: Nakes Ucapkan Terima Kasih Ke Airlangga Kendalikan Pandemi Covid-19

Dirinya menilai pendistribusian STB (Set Top Box) kepada masyarakat ekonomi kelas bawah secara menyeluruh belum berjalan maksimal.

“Suntik mati layanan TV analog menjelang momentum Idul Fitri menilai apakah tidak tergesa-gesa? Para penggunanya masyarakat di kampung-kampung, di desa-desa biasanya sebagai sarana kumpul ngariung keluarga menjelang lebaran Idul Fitri, sambil mereka menonton layanan spektrum TV analog,” kata mantan Ketua Badan Koordinasi Nasional Perhimpunan Mahasiwa dan Infomatika Nasional itu.

Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Pamulang ini juga menyayangkan konten-konten acara positif dan syiar keagamaan untuk mempererat ukhuwah dan kebhinekaan tidak dapat lagi dinikmati oleh sebagian masyarakat tertentu.

Semula penghentian siaran TV analog dilakukan pada 17 Agustus 2021. Hanya persoalan sosialisasi hingga pandemi COVID-19, membuat Kominfo memutuskan untuk penjadwalan ulang dimulai tahun 2022.

Baca Juga:   Balas Budi, Ridwan Kamil Dukung Airlangga Jadi Capres

Nasib ASO juga terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) RI yang meminta UU Cipta Kerja diperbaiki. ASO atau migrasi siaran TV analog ke digital di dalam UU Cipta Kerja melalui Peraturan Pemerintah No 46 Tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran (PP Postelsiar) untuk menyelesaikan suntik mati TV analog sampai 2 November 2022.

Sebelumnya, MK memutuskan memerintahkan DPR dan pemerintah memperbaiki UU Cipta Kerja dalam jangka waktu dua tahun ke depan.

“Menyatakan pembentukan UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Cipta Kerja tidak mempunyai ketentuan hukum yang mengikat secara bersyarat sepanjang tidak dimaknai tidak dilakukan perbaikan dalam waktu 2 tahun sejak putusan ini diucapkan,” kata Ketua MK Anwar Usman dalam sidang yang disiarkan channel YouTube MK, Kamis (25/11) dikutip dari detiknet.com.

Baca Juga:   Kisah Perjuangan Luther, Membawa Terang ke Pulau Alor

Bila tidak diperbaiki, maka UU yang direvisi oleh UU Cipta Kerja dianggap berlaku kembali. Pemerintah juga dilarang membuat aturan turunan dan kebijakan turunan dari UU Ciptaker selama 2 tahun ke depan.

“Apabila dalam tenggang waktu 2 tahun tidak dapat menyelesaikan perbaikan, maka UU atau pasal-pasal atau materi muatan UU yang dicabut oleh UU Nomor 11/2021 harus dinyatakan berlaku kembali,” ujar Anwar Usman.

“Menyatakan untuk menangguhkan segala tindakan atau kebijakan yang bersifat strategis dan berdampak luas, serta tidak dibenarkan pula menerbitkan pelaksana baru yang berkaitan dengan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja,” kata Anwar. (wdi)