Syukuran Arab Hays

  • Bagikan

Saat ketemu anak muda itu hari-hari berikutnya saya bertanya: dapat daging kambing dari mana. Di super market tidak dijual. Di Walmart tidak ada. ”Saya beli kambing hidup,” ujar Faris, anak muda vacuum cleaner itu, imam yg heboh itu. ”Saya sembelih sendiri,” tambahnya.


Usai angkat gumpalan daging dari drumnya dibuka pula oven besar di sebelahnya: isinya panci. Penuh nasi briani. Yang ada taburan bumbu di atasnya. Termasuk taburan cengkeh.

Panas. Mengebul uap panasnya. Menyebar aromanya. Dituanglah nasi itu. Ke tampah alumunium bundar. Gumpalan kambingnya ditumpuk di atas nasi briani.

Kami pun, 20 orang, melingkari nasi kambing itu. Dua lingkaran. Semua tangan menyerbu si kambing.

Baca Juga:   Bakso Son Haji Sony Siap Kooperatif Penuhi Permintaan Pemkot

Tidak asing bagi saya. Sudah sering pesan nasi model begituan. Kalau lagi ada tamu khusus. Praktis hampir pukul 12 malam baru mulai makan. Benar-benar kebiasaan orang di Arab. Makan malamnya jam segitu.

Saya mencicipi beberapa cuil kambing. Dan beberapa puluk nasi briani. Puluk adalah satuan untuk nasi yang mampu digenggam oleh lima ujung jari sebelum dimasukkan ke mulut. Maafkan atas definisi asal jadi itu.

Saya menikmati pulukan itu. Tapi lebih menikmati suasana asli serba Arabnya: cara duduknya, ngobrolnya, saling ejeknya, cara meraup nasinya, cara mencongkel dagingnya, cara mengeremus kambingnya.

Saya pamit: sudah pukul 00.00. Tidak emosi untuk ikut meludeskan kambing.

Baca Juga:   Singgung Nasib Karyawan, Ini Curhatan H. Sony Kala Semua Gerai Bakso Sony Ditutup

Ternyata semua itu syukuran: ada enam mahasiswa yang wisuda keesokan harinya. Lantas pulang.kampung. Tidak akan ke masjid itu.lagi.

Masjid ini akan kian sepi. Tapi hati saya ramai. Melihat sudah ada tulisan ‘masjid’ tertempel di dinding luarnya.(dis)




  • Bagikan