Taati Aturan, Loekman Berharap Semua Media Terverifikasi

  • Bagikan
FOTO RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Bupati Lampung Tengah (Lamteng) Loekman Djoyosoemarto berharap seluruh media terverifikasi sesuai aturan. Pasalnya di lapangan masih ada oknum yang merusak profesi wartawan.

“Saya berharap profesi wartawan jangan dirusak. Inilah salah satu peran serta pemilik media untuk ikut mengontrolnya. Jadi, saya berharap seluruh media terverifikasi. Jelas pemiliknya dan wartawannya,” katanya ketika audiensi dengan jajaran Radar Lampung siang ini (8/1).

Loekman mengatakan dirinya tidak alergi dengan wartawan. “Saya orang yang paling tidak alergi dengan wartawan. Marah-marah pun tidak, meski dikritik. Tapi, saya marah jika informasi yang disampaikan tidak sesuai fakta atau tidak terverifikasi. Seluruh pejabat di Lamteng juga saya minta tidak alergi dengan wartawan,” ujarnya.

Baca Juga:   Bupati Lamteng: Terima Kasih, Nakes!

Secara gamblang, Loekman meminta wartawan juga lebih kreatif dalam membuat berita. “Saya minta semua wartawan lebih kreatif menulis berita. Ini rata-rata berita yang di-share sama semua. Saya juga melihat tidak semua wartawan mengikuti kegiatan bupati. Hanya itu-itu yang saya lihat. Padahal daftar media di Lamteng banyak,” ungkapnya.

Sebagai mantan birokrat, Loekman menyatakan semua ASN di Lamteng difungsikan sesuai tugas dengan kewenangannya. “Tugas dan kewenangan ASN saya fungsikan. Saya tahu tugas itu karena mantan birokrat. Saya juga mewajibkan setiap stakeholder melakukan talkshow. Sosialisasikan program pembangunan kepada masyarakat. Jika ada waktu, saya juga talkshow,” ungkapnya.

Sedangkan Kadiskominfo Lamteng Sarjito menyatakan tahun ini banyak peraturan yang harus diikuti media. “Banyak aturan yang harus diikuti media jika akan menjalin kerja sama. Harus terverifikasi. Wartawannya juga harus lulus uji kompetensi,” katanya.

Baca Juga:   Di Lamteng, Apotek Pun Dapat Suplai Oksigen

Asas proposionalitas, kata Sarjito, mulai diterapkan. “Kita mulai terapkan asas proposionalitas. Seimbang tapi tidak sama. Dibagi jadi kelompok media A, B, dan C. Siapa yang paling banyak memberitakan. Selama ini tidak. Publikasi satu atau dua berita sama,” ungkapnya.

Terakhir, Sarjito meminta keseimbangan antara berita. “Kalau bisa matching dalam pembuatan berita. Seimbang. Contoh berita bupati ronda jaga keamanan. Tapi, di berita kedua kasus pencurian terjadi,” ungkapnya. (sya/sur)




  • Bagikan