Tak Capai Tahap Sempurna Saat Tes Fisik, KONI Ancam Coret Atlet PON

  • Bagikan
Atlet saat mengikuti tes fisik psikologi dan kesehatan, Senin (5/7). Foto Dok. Satgas Kita Gajah Lampung Berjaya KONI Lampung

RADARLAMPUNG.CO.ID – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung menggelar tes fisik, psikologi dan kesehatan tahap akhir bagi 154 atlet yang akan berangkat ke PON Papua, Oktober mendatang. Tes fisik dilakukan sejak Minggu (4/7) dan berakhir pada Rabu (14/7) mendatang.

Ketua Pelaksana Tes Fisik Psikologi dan Kesehatan, Surahman menjelaskan apabila tes ini merupakan tes rutin per tiga bulan sekali. “Tes bulan ini yang terakhir sebelum mereka berangkat ke PON,” jelas Surahman ditemui di Sekretariat KONI Lampung, Senin (5/7). Tes ini kata Surahman bukan hanya untuk atlet yang lolos PON, namun juga atlet dari cabang olahraga (cabor) yang akan tampil eksibisi seperti e-sport, kurash, kabaddi, hapkido, dan sambo.

Adapun item yang dites yakni VO2Max atau mengukur kemampuan tubuh dalam menghirup oksigen. Dan tes body match, tubuh atlet akan diukur menggunakan alat mulai dari kadar protein, lemak dan massa otot. “Kemudian ada juga tes kecepatan kelincahan, kelenturan, power dan akurasi,” sambungnya.

Selain diikuti atlet yang berada di Lampung, tes tersebut juga diikuti atlet yang berada di pulau Jawa yang tidak bisa ke Lampung karena aturan PPKM Mikro. Sebut saja seperti cabor layar, menembak, terjun payung, wushu, renang, karate, senam. “Karena beberapa atlet yang lolos PON, mereka sedang pelatnas untuk Sea Games dan ada juga yang sedang training camp jadi tidak bisa datang langsung. Mereka tesnya virtual melalui Zoom,” ujarnya.

Kabid Binpres KONI Lampung ini menegaskan, lantaran tes tersebut tes terakhir maka semua atlet khususnya yang lolos PON harus memenuhi kategori sempurna. “Ya tes ini kan ada beberapa kategori. Baik, baik sekali dan terakhir sempurna. Jadi mereka harus mendapat nilai sempurna dalam tes tahap akhir ini,” kata Surahman.

Apabila hasilnya tidak mencapai sempurna, atlet tersebut akan terdegradasi. Dan sebagai hukumannya, ia tidak mendapatkan uang pembinaan dari KONI. Hukuman tersebut kata Surahman sudah sesuai kesepakatan dengan para atlet. Hal ini dilakukan ungkapnya sebagai keseriusan KONI dalam menatap PON.

“Dan kemungkinan terburuknya dia bisa dicoret dari PON dan tidak kita berangkatkan,” tegasnya. Namun, melihat pelatda yang sudah berjalan satu tahun, pihaknya optimis tidak ada lagi atlet yang terdegradasi. (nca/sur)




  • Bagikan