Tangan Dingin Sang Seniman Ubah Daun Kering jadi Seni Lukisan


Pelukis dari daun kering : Seniman Lampung Aloysius Triwibowo (63) saat menyelesaikan pengerjaan lukisan dari limbah daun coklat kering di Jalan Jati Baru, Desa Hajimena, Natar, Lampung Selatan, Jumat (27/11). Lukisan dari limbah daun kering tersebut dibuat dengan berbagai tema tokoh seperti Presiden Jokowi, Soekarno Hatta, penyanyi Didi Kempot dan motif hewan. Foto M. Tegar Mujahid/ Radarlampung.co.id

Bagi sebagian orang daun kering tidak bermanfaat. Namun ada seorang pengrajin di Bandarlampung yang mampu menyulap daun kering coklat menjadi lukisan, yang mempunyai nilai tinggi seperti apa kisahnya. Yuk ikuti.

Laporan M. Tegar Mujahid/Radarlampung.co.id





RADARLAMPUNG.CO.ID – Daun berguguran dari pohon cokelat di kebun liar. Nampak seorang tengah memungut daun-daun kering yang berguguran, lalu dimasukan dalam sebuah karung.

Sesekali daunan tersebut diambil dari kepalan tanah yang sudah menutupi daun kering itu. Ya saat sudah dikumpulkan dedaunan yang terlihat kotor dan berantakan bukan untuk dibakar.

Namun tak di sangka ternyata daun yang sudah kering itu dapat menjadi sebuah karya seni begitu indah. Daun kering pun bisa dijadikan sebagai bahan dasar lukis seperti yang dilakukan oleh Aloysius Triwibowo (57) warga Nunyai, Rajabasa, Bandarlampung.

Pria tiga anak itu, saat ini menjadi tukang kebun di saung Sekar, Bataranila, Lampung Selatan. Lewat tangan dinginnya mampu membuat karya seni lukis dari bahan dasar daun kering.

Diselah-selah dirinya bekerja sebagai tukang kebun, ia menyempatkan untuk menyalurkan hobinya sebagai pelukis daun kering. Ruangan yang kurang lebih 6×8 meter, itu pun menjadi tempat dirinya menuangkan kreatifitas dalam berkarya di tempat ia berkerja.

Bowo –sapaan akrabnya– mengaku sudah 17 tahun membuat karya seni lukisan dari daun kering. Menginjak usia ke-57, ia mengaku bakat seni yang dimiliki dipelajari secara otodidak.

“Sejak tahun 2003 saya mengalami kesulitan ekonomi. Waktu itu saya berpikir bagaimana caranya membuat sesuatu dari tidak berharga menjadi bernilai,” kata Bowo, Jumat (27/11) dilokasi dirinya bekerja.

Sejak saat itu, Bowo mulai menuangkan idenya melalui daun kering sebagai material membuat lukisan. Proses pembuatannya cukup sederhana mulai dari Daun kering yang didapat di kebun liar tak jauh dari lokasinya dirinya bekerja di saung Sekar.

Daun kering dikumpulkan lalu dibersihkan. Setelah itu ia memilah bagian daun yang cocok untuk dijadikan lukisan. “Daun coklat yang disebut dengan kakao dan daun bambu. Karena bahannya mudah dicari, di sekitar rumah, kebun liat saja ada,” kata Bowo.

Alatnya pun sederhana mulai dari gunting, cutter, dan sendok yang dibengkok kan. Sendok ini gunanya untuk menekan potongan daun di atas media triplek yang dilukis.

Dirinya mengaku, penggunaan sendok yang dibengkok kan ini ada filosofi sendiri. “Kenapa saya pake sendok, karena artinya dari sinilah saya mencari sesuatu buat makan keluarga,” kata Bowo.

Karya lukisan daun lambat laun mulai dikenal. Meski dikenalkan ke pelanggan dari mulut ke mulut, namun tak sedikit ada pejabat dan penikmat seni lukis membeli karyanya.

Bahkan di era digital saat ini, Bowo tetap menjual lukisan tanpa melalui online. “Kalau harga yang jelas lebih murah dari lukisan kanvas biasa, karena bahannya semua memang sudah ada dari alam semesta,” kata Bowo.

Bowo mengatakan bagi yang berminat dibuatkan lukisan dari daun kering bisa mengunjungi langsung saung Sekar milik akademisi Unila, Dad RJ Sembodo, tepatnya di Bataranila, Natar, Lampung Selatan.

Pria kelahiran Notoyudan, Yogyakarta ini tetap menyebut dirinya sebagai tukang kebun ketimbang seorang seniman.

Bahkan, seni lukis yang ia buat dilakukan disela sela kesibukan nya merawat kebun. “Tergantung mood dan pesanan, kalau lagi mood kadang saya bikin buat koleksi sendiri,” kata pria kelahiran Notoyudan , Yogyakarta ini. (ang)