Tarif Listrik PLN Harus Naik Hingga 25 Persen Pada 2020, Ini Alasannya

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) memprediksi tarif listrik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN akan naik sekitar 10-25 persen pada 2020. Prediksi ini dibuat berdasarkan catatan riset yang bertajuk PLN’s Coal IPP Funding Gap Suggests Tariffs Must Rise in 2020.

Kenaikan ini ditimbang berdasarkan performa keuangan perusahaan. Di mana, PLN berencana akan menerbitkan lebih dari USD 1 miliar obligasi ke pasar internasional.

“Kondisi demikian mungkin akan segera berubah, karena PLN berusaha memasuki pasar obligasi yang lebih agresif dan kondisi keuangan PLN pasti akan semakin terbuka dan menjadi sorotan sejumlah analis,” ujar Peneliti Energy Finance IEEFA Melissa Brown, Selasa (22/5).

Baca Juga:   Masuk 10 Terbaik Nasional, Pertumbuhan Mobile Banking bank bjb Tercatat Paling Pesat

Analisis Energy Finance IEEFA Elrika Hamdi juga mengingatkan, kenaikan tarif listrik menjadi perhatian khusus dari para investor, terutama mengingat ekspektasi kerugian operasional yang meningkat tajam dalam empat tahun ke depan.

“Tapi ini (kenaikan tarif) adalah salah satu yang mungkin tidak ingin dibicarakan pemerintah dan PLN sekarang, terutama terkait dengan tahun politik,” papar Elrika.

IEFFA memperkirakan beban biaya operasi PLN berpotensi meningkat dari Rp 275,47 triliun menjadi Rp 447,77 triliun pada 2021. Kenaikan terbesar berasal dari biaya pembelian listrik dari Rp 72,42 triliun menjadi Rp 119,17 triliun, yang berasal dari kapasitas pembangkit baru.

Untuk menutup kenaikan beban, kajian tersebut menilai pemerintah juga perlu menambah subsidi listrik hingga 2021. IEEFA memperkirakan subsidi listrik bisa membesar dari Rp 50,6 triliun pada tahun lalu menjadi Rp 133,7 triliun pada 2021.

Baca Juga:   Disbunnak-Kodim 0422/LB Temukan Daging Ayam Busuk dan Hati Sapi Mengandung Cacing

Selain itu, catatan riset tersebut secara implisit turut mempertanyakan komitmen Pemerintah Indonesia yang masih mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara. Padahal di saat yang bersamaan pasar listrik global sedang bergeser ke pilihan sumber energi yang lebih bersih dan lebih murah untuk menghasilkan tenaga listrik.

“Karena semakin banyak bank dan investor menarik diri dari pendanaan pembangkit listrik tenaga batubara,” kata Melissa. (jpn/ynk)





  • Bagikan