Teknokrat Gelar Home Coming 2019, Ini Harapan Ketua Umum Aptisi Pusat

  • Bagikan
Home Coming 2019 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia digelar di Gelanggang Mahasiswa kampus setempat, Sabtu (16/11) malam. FOTO IST./RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID – Home Coming 2019 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknokrat Indonesia yang digelar di Gelanggang Mahasiswa kampus setempat, Sabtu (16/11) malam, dihadiri Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Pusat Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si, MEI.

Pada Home Coming kali ini, mahasiswa baru FEB Teknokrat sekaligus mengikuti kuliah umum yang disampaikan Prof. M. Budi. Ia banyak memberi wawasan kepada mahasiswa juga dosen terkait tantangan kampus dan mahasiswa menghadapi perubahan era yang serba digital.

Dalam kegiatan juga dilakukan penghargaan kepada mahasiswa perintis organisasi, Senat Mahasiswa FEB, dan mahasiswa berprestasi yang diserahkan oleh Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. H. M. Nasrullah Yusuf, SE, MBA.

Selain Ketua Umum Aptisi pusat, juga turut hadir Ketua Aptisi Bengkulu dan pengurus Aptisi lainnya, Dekan FEB Teknokrat Dewi Sukmasari, SE, MSA, Akt, CA, Dekan Sastra dan Pendidikan Ahmad Ridho, Ph.D, dan sejumlah dosen.

Dekan FEB Dewi Sukmasari dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran Ketua Umum Aptisi Pusat yang sangat kaya akan pengalaman dan ilmu. Menurutnya, dunia sekarang sudah berubah menjadi digital ekonomi. Mahasiswa yang memilih kuliah di FEB Teknokrat kini dalam proses belajar untuk menggapai impian.

Meski diisi kuliah umum, acara mahasiswa angkatan baru FEB Universitas Teknokrat tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mereka juga memeriahkan acara dengan menampilkan berbagai hiburan.

Baca Juga:   Rektor UTI Pandu Diskusi Forum Rektor Indonesia

Di sisi lain, Prof. M. Budi menyoroti masalah sumber daya manusia (SDM) dari masa ke masa. Persoalan yang dihadapi kampus dunia, mahasiswa tidak mau ke kampus, tapi berharap nilai bagus. Hal itu karena terjadi perubahan sistem pendidikan dengan e-learning.

“Maka yang harus dipersiapkan oleh perguruan tinggi kurikulum dan metode pengajaran yang disesuaikan dengan perkembangan zaman,” urainya.

Dia bilang, generasi ke generasi mengalami perbedaan sesuai zamannya, Generasi Tradisionalist lahir diantara tahun 1925 – 1945, Generasi Baby Boomers 1945-1964, Generasion X 1965-1979, Generasi Millennials 1980-1999, dan Generasi Z 2000-2012.

Budi Djatmiko melanjutkan, kini kita sedang di Era Revolusi Industri 4.0. Ada revolusi industri pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Revolusi industri kedua penemuan listrik. Era revolusi industri ketiga yaitu semua teknologi era komputer. Sekarang revolusi industri ke empat semua menggunakan android dan serba digital.

“Ini semua terjadi karena industri cerdas untuk memenuhi kebutuhan anak-anak milenial. Semua ingin berubah. Perubahan sangat terasa dirasakan masyarakat,” kata Budi.

Atas perubahan era tersebut, secara ekonomi sangat berpengaruh. Ekonomi di Indonesia banyak dikuasi oleh pengusaha Tiongkok dan negara maju. Begitu juga pengaruh sosial sangat dirasakan. Di mana kehidupan masyarakat sekarang semua berubah.

Lebih lanjut Budi Djatmiko mengingatkan kepada lembaga pendidikan, di mana generasi milenial dan Genetasi “Z” tidak mengejar pendidikan tinggi. Kondisi ini mengkhawatirkan bagi perguruan tinggi di dunia. Tapi, kehebatan generasi Z ini, kadang mengalahkan dosen karena dia lebih canggih dalam penggunaan teknologi.

Baca Juga:   Unila Buka Tele-Edukasi untuk Pendampingan Pasien Covid-19

Tapi yang perlu dicatat, generasi tua atau masyarakat tradisional sangat tangguh. Karena mereka sudah terlahir dan terdidik dengan kondisi yang ada.

Nantinya, lanjut Budi Djatmiko banyak hal yang dilakukan oleh generasi Z antara lain: gampang bosan terhadap barang yang dibeli, no gadget no life, hobi melakukan pembayaran non cash, suka dengan yang serba cepat dan instan, memilih pengalaman dari pada aset, berbeda perilaku dalam grup satu dan yang lain, jago multitasking, kritis terhadap fenomena sosial, dan sedikit-dikit posting.

Menghadapi kondisi ini, lanjutnya, perguruan tinggi termasuk Universitas Teknokrat harus berpikir ulang dalam menerapkan kurikulum. Dosen dalam menerapkan pengajaran harus mampu berpikir kreatif dan inovatif. Sehingga hasil dari pendidikan perguruan tinggi lulusannya mampu mengatur orang atau mempunyai kemampuan managerial.

Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE, MBA mengatakan, Teknokrat sebagai lembaga Pendidikan Tinggi selalu melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran.

Nasrullah mencontohkan, beberapa hari lalu mahasiswa Teknokrat juara nasional dalam lomba inovasi di UNY. Ini menunjukkan bahwa Universitas Teknokrat Indonesia selalu melakukan inovasi dalam menjawab tantangan zaman. (rls/apr/sur)




  • Bagikan