Terapkan Zero Waste Dalam Pengelolaan Sampah, Bahkan Puntung Rokok pun Tak Ada

  • Bagikan
Dua petugas memasukan sampah dalam alat insinerator milik UIN RIL. Dengan konsep zero waste manajemen sistem, UIN RIL mencoba memanfaatkan seluruh sampah hingga tidak tersisa. Foto dibidik Sabtu (12/6). Foto Rimadani Eka Mareta/Radarlampung.co.id

Sampah menjadi persoalan lingkungan yang sampai saat ini cukup sulit dikendalikan. Namun, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) yang telah menerapkan konsep Kampus Hijau kini membuat inovasi baru dengan menciptakan Green Corner.

Laporan Rimadani Eka Mareta, BANDARLAMPUNG


PEMANDANGAN nan hijau memanjakan mata  selama perjalanan memasuki kampus UIN RIL. Udara segar pun begitu terasa, terlebih di waktu tak banyak aktivitas kampus seperti di hari libur Sabtu (12/6) pagi lalu.

Nuansa hijau kampus yang terletak di Jalan Letnan Kolonel H Jl. Endro Suratmin, Sukarame, Kec. Sukarame, Kota Bandarlampung ini kian terasa saat berada di sudut kampus. Termasuk perjalanan menuju Green Corner, yang berlokasi di dekat gedung olahraga milik UIN RIL yang tengah dalam tahapan penyelesaian pembangunan.

Meski berlokasi di bagian kecil kampus, namun Green corner memiliki peran besar. Terutama bagi lingkungan sekitar. Pasalnya, sudut ini memiliki peran mengelola sampah yang berasal dari UIN RIL.

Tidak hanya mengelola, tapi juga memanfaatkan. Begitulah yang diungkapkan Wakil Ketua tim Pengembang Kampus Hijau UIN RIL Puji Raharjo.

Puji menjelaskan, Green Corner berada di satu lokasi, memiliki dua bagian berbeda. Satu bagian khusus digunakan untuk pengelolaan sampah, bagian lainnya khusus Green House. Dalam membantu mengelola sampah, UIN RIL memiliki insinerator, mesin pencacah sampah, dan bank sampah.

Dalam mengelola sampah, setiap harinya sampah yang masuk dari beberapa petugas kebersihan akan disortir lebih dahulu di bank sampah. Petugas yang juga merupakan mahasiswa UIN RIL itu selanjutnya memilah sampah.

Pemisahan sampah berdasarkan kriteria sampah anorganik bisa didaur ulang, sampah anorganik tidak bisa di daur ulang, dan sampah organik.

Sampah anorganik yang dinilai sudah tidak bisa di daur ulang akan dimasukan dalam alat insinerator. Alat berwarna hitam dengan tinggi mencapai 3 meter inilah yang akan mengubah sampah anorganik yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi menjadi abu. Pengelolaannya dilakukan dua orang, dengan operasional setiap hari.

Produk abu yang dihasilkan juga bernilai jual. “Abu yang dihasilkan bisa untuk bahan campuran pembuat paving blok. Sehingga menambah nilai jual, ini juga sesuai konsep UIN RIL dalam menyesuaikan konsep zero waste manajemen sistem,” jelas Puji.

Ada pula alat pencacah sampah. Alat berwarna biru muda ini berfungsi untuk menghancurkan sampah anorganik yang masih bisa dimanfaatkan menjadi bagian lebih kecil dari ukuran normalnya, sehingga bisa kembali dimanfaatkan. Jenisnya seperti sampah bekas botol minuman kemasan atau sampah plastik. Di mana hasilnya masih bisa kembali dijual untuk bahan baku elektronik.

Untuk sampah organik, pemanfaatannya langsung dijadikan pupuk organik. “Jadi setelah tiga bulan, bisa menjadi pupuk organik. Kami juga melengkapi dengan kandungan EM4 agar bisa dimanfaatkan dalam bertanam,” jelas Puji.

Di bagian lain dari Green Corner, ada Green House. Ruangan semi tertutup ini berisikan tanaman hidroponik. Tanaman selada, bayam merah, dan pakcoy yang mulai terlihat memunculkan batang dan daunnya di pipa-pipa paralon yang sudah diberi lubang.

Penggunaan metode tanam hidroponik ini membuat media tanam tidak menggunakan tanah, melainkan mengandalkan aliran air yang sudah disiapkan dalam satu tandon air.

Pengelolaan Green House melibatkan langsung mahasiswa. Seperti yang dilakukan Annisa Fajri Surya Mahasiswa Pendidikan Biologi UIN RIL angkatan 2017. Setiap dua hari, mahasiswa datang untuk mengecek kondisi air.

“Setiap dua hari dicek kondisi airnya, barulah kalau sudah 25 hari tanam nanti bisa dipanen pakcoy, kemudian bayam merah setelah 30 hari tanam,” jelas Annisa.

Dengan melibatkan seluruh bagian kampus, Rektor UIN RIL Prof Moh. Mukri menyampaikan visi misi UIN RIL memang juga fokus pada lingkungan di dalam kampus.

“Adanya Green Corner ini merupakan salah satu spirit UIN RIL, karena visi misi UIN berkenaan dengan lingkungan. Bahkan kampus UIN RIL sudah mendapat berbagai penghargaan, terutama UI Greenmetrick lembaga internasional yang berkenaan lingkungan,” beber Prof Mukri.

Apalagi, UIN RIL juga satu-satunya PTN yang sudah menerapkan ISO 140001. Karena itu Prof Mukri berharap para tamu yang baru masuk ke UIN RIL, ketika di dalam kampus tidak merokok. Terlihat, puntung rokok pun tidak ada.

“Jadi nggak usah kaget, kalau di UIN tidak ada orang merokok. Tidak ada puntung rokok, bahkan plastik tidak ada plastik. Itu visi misi tidak hanya studi keislaman tapi juga studi lingkungan,” jelas Prof Mukri. (rma/sur)





Baca Selengkapnya...





  • Bagikan