Terimbas PPKM, Okupansi Hotel Turun

  • Bagikan
FOTO DOK. JAWAPOS.COM

RADARLAMPUNG.CO.ID – Pemerintah akan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 yang berlaku mulai 24 Desember mendatang hingga 2 Januari 2022.

PPKM tersebut  diterapkan untuk membatasi mobilitas masyarakat mengingat libur panjang Natal dan tahun baru (Nataru), guna mencegah penyebaran Covid-19.



Lantas bagaimana pengaruhnya dengan industri hotel? Padahal momen Nataru biasanya menjadi panen keuntungan bagi industri hotel dan pariwisata lainnya.

General Manager Batiqa Hotel Adhi Wahyu mengatakan, penerapan PPKM level 3 ini membuat bisnis hotel terganggu. Sebab, dengan PPKM mobilitas masyarakat dibatasi dengan penyekatan, sehingga membuat masyarakat berpikir ulang untuk berpergian.

Hal itu terbukti dari jumlah booking-an hotel hingga saat ini menurun. Padahal biasanya sejak awal Desember semua kamar sudah di-booking.

“Yang booking untuk 24 Desember hingga 2 Januari masih sedikit. Dari total 108 kamar, baru ada 10 kamar yang sudah dipesan,” ujar Adhi kepada Radar Lampung.

Itu pun, kata Adhi, bukan untuk tujuan berlibur, melainkan untuk urusan bisnis.

“Untuk season holiday belum ada. Harusnya dari jauh-jauh hari seperti ini sudah full booking. Seperti tahun 2019 lalu contohnya, pada Desember awal kami sudah terisi 50 persen. Tapi sekarang okupansi hotel masih 10 persen sampai sekarang,” bebernya.

Pihaknya juga tidak mengadakan program kegiatan di hotel, karena adanya PPKM level 3 ini.

“Untuk acara di hotel karena ada desas desus PPKM sejak Oktober, jadi kita nggak ngadain program apapun,” sambungnya.

Agar kamar bisa tetap terisi penuh, Batiqa Hotel kata Adhi rencananya tidak menaikkan harga kamar. “Kalau biasanya kan momen tahun baru Naik. Tapi sekarang kita nggak naikin harga agar tamu stay di kita. Jadi tetap harga normal,” kata Adhi.

Senada, Ayunda Herwika Public Relation Hotel Asoka Luxury mengatakan, terjadi penurunan di momen Nataru tahun ini. Ayu mengatakan banyak tamu hotel yang sudah memesan kamar kemudian tiba-tiba meminta pergantian tanggal.

“Tamu yang sudah booking bulan Desember banyak yang minta mundur dan reschedule (menjadwal ulang) lagi,” kata Ayu.

Termasuk yang melakukan pemesanan paket holiday seperti open trip ke Pulau Pahawang minta dimundurkan karena terbentur PPKM level 3.

“Banyak tamu dari Palembang, Jambi dan Bengkulu yang mau ke jalan-jalan seperti ke Pahawang dan sebagainya mereka minta reschedule. Ada yang minta mundur juga karena ada PPKM ini,” paparnya.

Penurunan tamu hotel kata Ayu sudah pasti. Sebab, biasanya Desember sudah ada yang memesan untuk liburan tahun baru.

“Berkurang (tamu) sudah pasti karena kan keluar masuk Lampung diperketat. Mungkin bisa jadi turun 50 persen. Biasanya kan Desember ini sudah ada yang pesan untuk new year, tapi sampai sekarang masih belum,” tandasnya.

Sedangkan General Manager Sheraton Hotel Lampung Benedictus Jodie mengatakan, PPKM level 3 tak terlalu berdampak terhadap pihaknya. Pemesanan kamar masih terus berjalan.

Hanya saja ia akui, banyak tamu dari Jakarta yang bertanya mengenai kebijakan PPKM di kota Bandarlampung.

“Permintaan masih ada (untuk Nataru). Dari corporate yang saya tanya mereka akan menunda kegiatan di minggu ketiga Desember ini. Tapi untuk tamu yang lain masih wait and see untuk aturan yang diterbitkan wali kota dan pemerintah,” ungkap Jodie –sapaan akrabnya.

Termasuk tamu dari Jabodetabek masih menunggu aturan ganjil genap di Jakarta dan penyekatan di pelabuhan Merak dan Bakauheni dan peraturan lainnya.

Kemungkinan, kata Jodie, pemesanan tiket untuk libur Nataru terjadi pada last minute. “Seperti tahun sebelumnya tamu biasanya booking di last minute. Kebanyakan tamu Sheraton ini masih wait and see,” kata Jodie.

Jodie mengatakan, saat ini pihaknya tidak mengadakan kegiatan di malam tahun baru.

“Tidak ada perayaan kembang api. Hanya ada makan malam saja tanpa musik, dan itu dibatasi maksimal 50 persen. Konsepnya sama seperti tahun lalu. Hanya makan malam,” bebernya.

Sheraton, kata Jodie, tetap menerapkan protokol kesehatan seperti sudah menyediakan tempat scan QR code Aplikasi Pedulilindungi.

Sementara Hotel Horison pada 24 Desember hingga 2 Januari saat PPKM level 3 diterapkan masih 10-15 persen ada pemesanan kamar. Hal itu diungkapkan oleh Danarto Kuntjoro, General Manager Hotel Horison.

“Tanggal 24 sampai tanggal 2 Januari pemesannya masih 10-15 persen,” kata Danarto. Biasanya sebelum pandemi melanda di awal bulan Desember, kamar sudah terisi 50 persen karena sudah dipesan jauh-jauh hari.

Danarto mengatakan kemungkinan tamu belum melakukan pemesanan karena masih menunggu aturan final dari pemerintah. Karena itu ia berharap agar penyekatan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu ketat.

“Biasanya tamu lihat situasi dan kondisi. Saya berharap sebisa mungkin penyekatan tidak terlalu ketat, supaya tamu yang berniat untuk berkunjung ke Lampung masih bisa dikasih akses,” harapnya.

Bila masih sepi hingga sepekan menjelang tahun baru, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan melakukan obral diskon.

“Kalau sepi tamu kita biasanya jual kamar di bawah harga. Kita lihat seminggu akhir tahun nanti, kalau benar-benar low sekali kita obral seperti tahun lalu. Bisa kita obral diskon sampai 50 persen. Bisa terisi setengahnya saja kami sudah bersyukur,” kata Danarto.

Di masa pandemi saat ini, sudah bisa membiayai operasional hotel saja sudah cukup. Beruntung kata Danarto, adanya even muktamar NU di Lampung cukup membantu tingkat keterisian kamar hotel. Ditanya apakah pihaknya akan mengadakan kegiatan tahun baru? Danarto mengaku tidak ada program tahun baru.

“Selama pandemi kami sepakat tidak ada acara hura-hura. Tapi minimal ada makan malam lah,” ujarnya. (nca/sur)






  • Bagikan