Terkait WNI Terlantar di Turki, Ortu Habiskan Rp60 Juta Demi Bisa Bekerja ke Polandia


Foto Ist. For Radarlampung.co.id

RADARLAMPUNG.CO.ID – Siswati (40) dan Ahmad Sundari (44), orang tua kandung Imam Taufik Hidayat (27), mengaku sudah menghabiskan uang sekitar Rp60-an juta.

Uang sebanyak itu dikeluarkan warga RT 01, RK 04, Tiyuh Pulung Kencana, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Tubaba ini untuk mengurus keberangkatan anaknya sebagai calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dimulai sejak tahun 2019 lalu.





Mirisnya, kini Imam yang akrab disapa Taufik (27) yang merupakan salah satu di antara puluhan calon PMI malah terdampar di Turki.

Diungkapkan Siswati yang sebelumnya merupakan warga Tiyuh (Desa) Gedung Ratu, Kecamatan Tulangbawang Udik (TBU), Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung ini, semua itu ia lakukan guna memenuhi keinginan anak sulungnya ini.

Siswati (40) menceritakan, pada awalnya, Taufik mendaftar dengan tujuan Taiwan melalui agen atau sponsor pertama yaitu SR, namun sayangnya, sudah menunggu selama setahun, pemberangkatan tidak juga dilaksanakan.

Kemudian dari sponsor yang pertama dipindahkan ke sponsor kedua, yakni melalui N dan B, dengan tujuan negara Polandia.

Dari N dan B itu dijanjikan berangkat ke Polandia. “Pada Oktober tahun 2021 lalu, berangkatlah anak saya itu bersama rombongan sekitar 75 orang dengan tujuan awal ke Polandia, namun sebelum ke Polandia terlebih dahulu rombongan harus transit di Turki dulu selama 3 bulan,” ungkap Siswati kepada Radarlampung.co.id.

Hal itu, kata dia, dilakukan sembari menunggu panggilan dan mengurus Incomet di Turki (sejenis KTP) untuk bisa masuk ke Polandia.

Setelah tiga bulan menanti di Turki, ternyata tidak ada pemberangkatan. Agency yang memberangkatkan calon PMI ini beralasan bahwa itu terkait dengan perang antara Negara Rusia dan Ukraina.

“Jadi tidak bisa masuk ke Polandia. Kemudian dijanjikan untuk pulang ke Indonesia dengan alasan akan dipindahkan ke negara lain, tetapi harus proses dulu ke Indonesia. Kendati demikian, sampai detik ini tidak diproses sama sekali,” ungkap Siswati lagi.

Sebelumnya memang di Turki rombongan bekerja terlebih dahulu mendapat bekal di Pabrik Sepatu dan Masker karena sambil menunggu.

“Dan 3 bulan pertama itu mereka disediakan mes, setelah 3 bulan itu Incomet malah tidak jadi alasan agen dari sana menipu padahal duit sudah masuk. Sehingga otomatis saat ini status mereka sudah ilegal dan tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Dia menambahkan, sudah dua bulan lebih mereka (Imam dan calon PMI lainnya-red) tinggal di penampungan oleh sponsor, tidak bekerja. “Sekarang mereka numpang-numpang di tempat kawan yang bekerja resmi di Turki sana.

“Agen setiap ditanyakan cuma bilang nanti-nanti saja. Padahal janji ke Polandia kerja 2 tahun di spare part mobil atau tempat pengepakan daging, tapi nyatanya malah zonk, pulang ke Indonesia pun malah tidak bisa lagi,” ungkapnya.

Orang tua Taufik itu juga menuturkan, uang yang sudah ditransfer ke agen pertama SR senilai Rp15 juta, tetapi hanya kembali Rp10 juta karena tidak jadi berangkat, kemudian di agen kedua sudah masuk Rp26 juta, dan itu di luar dari biaya konsultasi dan lain-lain.

“Kalau total-total sudah ada sekitar Rp60 juta kami habis uang untuk keberangkatan. Kami ini tidak tahu perusahaan agen itu secara pasti, karena dulu berangkatnya secara mandiri lewat sponsor seingat saya alamatnya di Griya Sempurna Jln. Swadaya No.138 RT.04/08 Masjid Quba Al-khoiriyah Kel. Jati Ranggon, Jati Sampurna Kota Bekasi,” sebutnya.

“Namun, untuk agen dari Lampung itu dari Lampung Tengah kalau tidak salah, yaitu N dan B di kediaman Kepalo Tiyuh Gedung Ratu, Minggu (17/4/2022). PMI setelah dipindahkan dari agen pertama SR,” sebutnya.

Kata dia, Taufik berangkat dari Lampung tidak sendirian.

“Ada kawan dari Lampung juga, kalau tidak salah dari Lampung Timur 3 atau 4 orang, sedangkan yang lain kawannya dari pulau Jawa sana,” kata dia. (fei/sur)