Tiga Sekolah Siswanya Terbanyak Masuk Unila Lewat SNMPTN, Berikut Rinciannya

  • Bagikan
Humas BPPMB Unila M. Komarudin saat ditemui di ruangannya, Senin (24/8). FOTO RURI/RADARLAMPUNG.CO.ID

RADARLAMPUNG.CO.ID-Pengumuman Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) telah dilakukan Senin (22/3). Dari 1731 yang diterima di Universitas Lampung (Unila), 93% merupakan siswa asal Sekolah di Lampung.

Dari sebanyak 93% tersebut, lulusan MAN 1 Bandarlampung, SMAN 1 Gadingrejo, SMAN 1 Natar jadi tiga sekolah terbanyak yang diterima Unila melalui jalur SNMPTN.

Hal ini dikatakan Humas SNMPTN Unila, Komaruddin pada Selasa (23/3) melalui pesan WhatsApp nya. “Iya jadi dari 1731 yang diterima, 93% lebih yang diterima berasal dari Lampung,” jelas Komar.

Selanjutnya, ada juga 20 sekolah yang diterima di Unila dengan jumlah yang cukup banyak selama SNMPTN ini. Mulai dari MAN 1 Bandarlampung 52 orang, SMAN 1 Gadingrejo 51 orang, SMAN 1 Natar 46 orang, SMAN 7 Bandarlampung 46 orang, SMAN 1 Kota Agung 45 orang, SMAN 1 Purbolinggo 44 orang.

“Ada juga SMAN 9 Bandarlampung 44 orang, SMA Al Kautsar 41 orang, SMA YP Unila 40 orang, SMAN 3 Metro 39 orang, SMAN 1 Pringsewu 38 orang, SMAN 13 Bandarlampung 38 orang, SMAN 2 Bandarlampung 37 orang, SMAN 5 Bandarlampung 37 orang, SMAN 1 Kotagajah 36 orang, SMAN 1 Terbanggi Besar 36 orang, SMAN 1 Way Jepara 35 orang, SMAN 1 Sumberejo 34 orang, SMAN 1 Tumijajar 33 orang, SMAN 1 Kalirejo 32 orang,” jelasnya.

Baca Juga:   Simak, Ini Daftar Anggota DPRD Bandarlampung yang Walk Out Dari Paripurna

Rektor Unila, Prof Karomani dalam jumpa persnya yang digelar di ruang sidang Lantai II Rektorat Unila menyatakan, dari total pendaftar 14.137 orang, dengan rincian untuk pilihan satu ada 10.464 orang, dan pilihan ke dua ada 9.687, dan pendaftar KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah 3.688 orang.

Diterima Sebanyak 1731 orang dengan 572 penerima KIP Kuliah. Prof Aom -sapaan akrab Karomani- mengatakan terbanyak berasal dari Lampung. “Dari total Rasio provinsi penerima SNMPTN Unila, Lampung 93,76% sisanya Sumsel 2,77%, Banten 1,04%. Sisanya 13 provinsi dibawah 1%,” jelasnya.

Hal tersebut karena dirinya menerapkan kebijakan baru, di mana, anak-anak pendaftar yang berasal dari Lampung menjadi prioritas. Bahkan disetiap kabupaten kota pun memiliki keterwakilan mahasiswa di Unila. Terutama fakultas Kedokteran

Baca Juga:   Bertahap, Jalan ke Rawajitu Tuba Diperbaiki

“93,76 yang diterima dari Lampung untuk SNMPTN Unila padahal kalau mau tarung bebas mungkin akan lain, karena ada kebijakan Unila. Bahkan, statistik Penerimaan mahasiswa FK (Fakultas Kedokteran) juga mencapai 63,93% dari Lampung,” jelas Prof Aom.

Dirinya mengatakan jika sebelumnya, statistik kedokteran tahun lalu dinyatakan 60% lebih dominan dari siswa Bandarlampung. Sekarang tidak.

“Bersama Wakil Rektor satu saya ambil keputusan ingin wakil semua kabupaten/kota diterima jalur undangan. Sebelumnya hanya Bandarlampung karena jika dinulai dari indeks sekolah, kabupaten itu rendah. Maka kami menurunkan indeks Sekolah tersebut. Untuk diketahui, Indeks prestasi sekolah penilaian nya dengan nilai akreditasi sekolah, IPK senior mereka yang pernah diterima ke Unila tahun sebelum, dan nilai rata-rata SBMPTN Unila dan keterwakilan wilayah.

Baca Juga:   Di MAN 1 Pesawaran, Tim PKM Teknokrat Beber Maksimalisasi Pendapatan Medsos

Jika sebelumnya 70 lebih. selanjutnya Unila menurunkan ke angka 69. ” Maka kami turunkan, agar tidak hanya Bandarlampung yang bisa masuk FK Unila. Saat diturunkan semua masuk, ada wakilnya. Kemudian Setelah kita tracking kebelakang, ternyata 50% itu bidik misi. Maka saya mengajak Bupati yang mahasiswa terima jalur undangan tapi tidak mampu, maka kita minta bantu. Jangan sampai pendidikan hanya untuk elit, maka unila pemihakan pada anak yang kurang mampu dan memebrikan akses ke kabupaten kota agar proposiona,” lanjut Aom.

Lebih lagi, Misi Unila membuka akses pendidikan untuk semua kalangan. Karena itu itulah, Aom mengatakan membuat kebijakan baru.

“Supaya siswa kabupaten/kota bisa akses pendidikan di Unila terutama kedokteran. Dan. Baru terjadi saat ini, bahkan 50% dari kabupaten kota jalur bidik misi, KIP. Maka itu saya berkomunikasi dengan bupati/walikota agar tuntas kuliahnya jangan tidak kuliah karena faktor ekonomi,” tambahnya. (rma/wdi)



  • Bagikan