Tiket Pesawat Diprediksi Sumbang Inflasi Usai Lebaran

  • Bagikan

radarlampung.co.id –Kenaikan harga tiket pesawat dan gejolak harga pangan diprediksi sebagai penyumbang utama inflasi pada saat Lebaran 2019. Posisi inflasi diperkirakan di kisaran 0,7 persen mont-to-mont (mtm).

“Kemungkinan inflasi di bulan Juni bisa sampai 0,7 persen mtm,” ujar ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (2/6).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasuton mengatakan, inflasi pada saat Lebaran 2019 diperkirakan di kisaran 0,5 hingga 0,6 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Lebaran tahun lalu.

“Kita berharap inflasi akan berkisar di 0,5 hingga 0,6 persen. Tinggi di bulan lain, tapi tidak tinggi dibanding Lebaran tahun lalu,” kata Darmin di Jakarta, Jumat (31/5).

Darmin menjelaskan, sudah dipastikan penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga tiket pesawata pada saat Lebaran.

“(Inflasi) Sebetulnya sektor transportasi. Itu sebetulnya (tiket) tidak termasuk tinggi kenaikannya, karena sampai akhir bulan lalu sudah naik tinggi, kalau sekarnag tidak terlalu, meski naik sedikit,” ujar Darmin.

Menurut Darmin, kenaikan harga pangan juga memicu inflasi. Lanjut Darmin, kecuali beras, tidak berdampak pada inflasi. “Untuk beras tidak, tapi di bahan pangan itu ada ayam, pokoknya pangan di luar beras, lalu urusan cabai, bumbu-bumbuan. Sehingga kalau bicara angkutan sebetulnya bulan ini ada naiknya tapi tidak banyak, yang banyak itu naik sampai bulan lalu,” tutur dia.

Ke depan, lanjut Darmin, persoalan harga tiket pesawat akan menjadi perhatian pemerintah. Pasalnya mahalnya transportasi berdampak pada kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun lokal.

“Dampaknya ini agak luas ke tourisme, bukan hanya mudik tapi ke tourisme dampaknya cukup banyak. Kita dalami terus nanti kita bicarakan lagi setelah Lebaran,” ucap dia.

Darmin menyebutkan inflasi saat masa Lebaran memang selalu tinggi, misalnya pada Lebaran 2014 inflasi tercatat sebesar 0,93 persen. Lalu, pada 2015 sebesar 0,93 persen, 2016 sebesar 0,69 persen, 2017 sebesar 0,69 persen, dan 2018 berada di level 0,59 persen. (fin/kyd)


Baca Juga:   Triwulan II 2021, Laba bank bjb Tumbuh Positif di Tengah Pandemi


  • Bagikan