Tolong Petani Tubaba, Air Tak Kunjung Aliri Sawah

  • Bagikan
ILUSTRASI INTERNET

RADARLAMPUNG.CO.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Tulangbawang Udik, Tulangbawang Barat (Tubaba) mengeluhkan pasokan air yang tidak maksimal mengaliri sawah mereka yang kini sudah ditanami padi sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, meski air pada jaringan irigasi tersier tersedia, namun pembagiannya ke sawah-sawah yang ada di wilayah tersebut dinilai kurang merata.

Hal ini sudah terjadi hampir sepekan, wajar saja lahan persawahan menjadi kering dan terlihat retak-retak. Intensitas hujan yang mulai menurun di wilayah tersebut juga kian dirasakan petanai, padahal air hujan cukup menjadi obat kegelisahan petani saat air dari irigasi tidak mampu mengairi sawah mereka. Kondisi ini diungkapkan Sunarto (47), petani Tiyuh Margakencana, Kecamatan Tumijajar, Tubaba.

Jika kondisi tersebut terus berkepanjangan, timpal Marko’i (56), lahan sawah tekhnis irigasi terancam kekeringan. Imbasnya, para petani tidak akan merasakan panen. Melihat hamparan padi menghijau pun bisa jadi hanya sebatas mimpi, sebab pemupukan juga tersendat akibat kurangnya pasokan air tersebut.

“Yang pasti, kami sekarang kesulitan air. Bagaimana kami bisa panen kalau kondisinya begini,” keluh Markoi, Minggu (6/1).

Tidak jarang juga para petani terpaksa menyedot air dari sumber air terdekat untuk dilairkan ke sawah mereka, seperti rawa atau galian tanggul irigasi. Namun hal ini tentunya tidak bisa terus-menerus dilakukan, selain airnya yang juga terbatas, petani terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan guna membeli minyak untuk menghidupkan mesin penyedot air.

Jika dipaksa, biaya mereka dalam menanam padi tidak akan sesuai dengan hasil panen yang didapat. “Sawah saya ini sudah seminggu ditanami padi, dan sejak tanam sampai sekarang belum pernah dialiri air mas. Lihat saja, tanahnya sudah pada retak karena kekeringan. Sudah lama juga tidak turun hujan,” cetus Mas To (47), salah seorang petani di Tiyuh Marga Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Udik.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pasokan air pada jaringan tersier. Sehingga pembagian ke sawah-sawah juga tidak bisa maksimal dan merata.

“Ya, kami hanya bisa menunggu giliran dan berharap hujan turun dengan intensitas yang lumayan deras, kalau sekarang ini cuma gerimis dan tidak lama. Kadang nekat mas nyedot air dari rawa atau galian yang ada airnya, kalau sekali dua kali tidak apa, tapi kalau terus-terusan ya bisa bangkrut,” bebernya.

Dengan kondisi ini, Dinas Pertanian melalui petugasnya diharapkan semakin intensif turun ke lapangan guna memastikan berbagai kendala yang dihadapi petani, khususnya terkait dengan pasokan air dari irigasi yang merupakan kebutuhan vital dalam budidaya padi tekhnis irigasi. Selain itu, pengawasan terhadap pembagian air ke sawah-sawah juga perlu ditingkatkan agar dapat merata. (fei/ded/sur)





  • Bagikan