Tradisi Makan Pinang: Camilannya Masyarakat Papua

  • Bagikan
Penjual pinang di jalan raya Kemiri, Sentani, Papua. Foto Anca/Radarlampung.co.id
Penjual pinang di jalan raya Kemiri, Sentani, Papua. Foto Anca/Radarlampung.co.id

Radarlampung.co.id – Kebiasaan masyarakat Papua makan pinang cukup unik. Tidak mengenal umur, profesi, dan gender. Hampir semua masyarakat asli Papua makan pinang, alias nyirih.

Sepanjang jalan dari Kota Jayapura hingga di Sentani, Kabupaten Jayapura berjejer pemandangan para penjual pinang. Buah pinang ditumpuk menjadi tumpukkan kecil.


Seperti Herry Marlyolin Ondikeleuw (35). Wanita ini tidak bisa lepas dengan makan pinang. Meski ia berpakaian setelan blazer dan rapih menjaga information desk Media Center di Kabupaten Jayapura, PNS di Diskominfo ini tetap asik memakan pinang.

Sesekali tangan kanannya mencocol buah sirih ke dalam kapur sirih yang dibungkus dengan plastik klip. Gigi dan bibirnya terlihat merah, efek buah pinang yang bercampur dengan kapur sirih yang ia kunyah. Bagi Herry mengunyah pinang tidak bisa lepas darinya.

“Kalau nggak makan pinang, bawaannya kerja tidak semangat dan mengantuk,” ujarnya.

Karena itu, wanita berambut pendek ini selalu membawa pinang ke tempat dia bekerja. “Setiap bekerja saya bawa satu kantong pinang,” sambungnya.

Herry menjelaskan, tradisi makan pinang bagi masyarakat Papua sudah turun temurun sejak nenek moyang mereka. Mereka sudah diajarkan mengunyah pinang bahkan sejak balita.

“Dari kecil sudah (makan pinang). Biasanya ibu kita yang mengunyah, lalu disuapin ke anaknya,” cerita Herry.

Makan pinang tidak kenal waktu baik pagi, siang dan malam. Pinang selalu menjadi santapan masyarakat Bumi Cendrawasih.

“Ibaratnya pengganti permen. Setiap rumah pasti ada pinang yang disediakan untuk tamu,” katanya. Apalagi ketika acara adat, buah bernama latin Areca catechu ini wajib ada.

Mengunyah pinang juga dipercaya masyarakat Papua untuk menguatkan gigi, mencegah bau mulut dan sariawan. “Makanya orang sini (Papua) jarang ada yang sakit gigi,” lanjut Herris.

Saking tak bisa lepasnya dia dari pinang, wanita yang menjabat Kasi Aplikasi E-government Diskominfo Kabupaten Jayapura ini menjelaskan apabila ketika ia ke luar Papua, dirinya selalu membawa bekal pinang. “Saya kalau tugas ke Jakarta selalu bawa pinang,” ujarnya.

Pinang yang dijual kaki lima juga memiliki istilah, ada pinang ojek. Pinang ojek ini berisi dua atau tiga butir buah pinang, dan kapur sirih harganya dijual Rp2 ribu.

Istilah pinang ojek muncul karena harganya yang murah dan hanya untuk sekali makan.

Ada juga pinang tumpuk yang dijual bervariasi antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Menariknya buah pinang Papua memiliki ciri khas, yakni buah yang kecil seukuran ibu jari.

Tak lengkap rasanya jika tidak mencoba. Radar Lampung pun berkesempatan mencicipinya.

Cara makan pinang pun pertama-tama pinang dikunyah bersama sabutnya. Setelah itu, air liur kunyahan buah pinang harus dibuang satu hingga dua kali.

Cara tersebut diyakini untuk menghindari orang yang baru pertama kali memakannya mengalami mabuk pinang. Lalu, campurkan buah sirih ke kapur sirih untuk membuat efek merah di bibir.

Sensasi rasa sepat, pedas, rasa mint dan manis pun campur aduk di dalam mulut.

Bukan hanya masyarakat Papua. Bagi warga pendatang seperti Aris yang berasal di Sulawesi Selatan, pinang juga disukai.

Ia makan pinang sejak masih remaja karena pergaulan di lingkungannya. Di tengah masyarakat, pinang juga bisa dijadikan alat pencair suasana.

“Pinang ini jadi pembuka obrolan. Misalkan kita ketemu dengan orang kita tawari pinang,” tandasnya. (nca/sur)




  • Bagikan