UIN RIL Curigai Ada Rekayasa dalam Aksi Demo Pelecehan oleh Oknum Dosen

  • Bagikan

RADARLAMPUNG.CO.ID – Wakil Dekan II Bidang Administrasi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Raden Intan Lampung (RIL) mencurigai aksi demo dugaan pelecehan seksual terhadap EP (21) oleh dosen sosiologi, SH, direkayasa.

Sudarman mengatakan, beberapa kecurigaan tersebut yakni, salah satu massa aksi yang mengaku kakak EP, Fredy saat beraudiensi, Jumat (28/12) lalu, menyebutkan ayah korban beberapa kali didapati tidak singkron.


“Pertama dia sebut dari keluarga Jafar terus disebut lagi Jek, terus dia sebut lagi beda lagi,” ujarnya, kepada Radar Lampung, Minggu (30/12).

Selain itu, Sudirman juga mengatakan, saat beraudiensi itu, Fredy menyebutkan ayahnya mengalami shock luar biasa karena mendengar EP dilecehkan, sampai-sampai ayahnya terduduk lemas di kursi roda.

Baca Juga:   Mantan Jaksa KPK Tangani Perkara Benih Jagung Mantan Pejabat Pemprov Lampung

“Katanya bapaknya sakit sampai-sampai tidak bisa berdiri sehingga duduk di kursi roda. Tapi malah si Fredy itu menelpon bapaknya, pakai lost speaker, terdengar segar sekali, jadi lagi-lagi gak sesuai dengan pernyataan awal,” imbuhnya.

Dirinya juga menyayangkan saat itu, pihak dekanat meminta Fredy menghadirkan EP, namun dihalangi-halangi dengan alasan trauma meilhat SH.

“Sampai saat ini kami belum bertemu langsung yang mengaku korban itu, bagaimana kronologi, pas diminta menghadirkan massa aksi tidak bisa menghadirkan yang bersangkutan,” imbuhnya.

Menurutnya, pihaknya juga akan berhati-hati dalam mengungkap masalah tersebut. Pihaknya juga siap menghadapi laporan EP karena kejadian tersebut terjadi di lingkungan kampus.

“Kami juga akan hati-hati dalam permasalahan ini. Intinya kami siap bila memang maunya melalui jalur hukum. Tapi, bila keterangannya dibuat-buat, namanya itu pencemaran nama baik ya,” terangnya.

Baca Juga:   Polisi Akan Libatkan Ahli Psikologis

Di lain sisi, Rektor UIN RIL Prof. Dr. Moh. Mukri, M.Ag. kepada Radar Lampung mengatakan pihaknya menanggapinya secara normatif.

“Ya gini aja, itukan normatif aja, kalau memang iya, kan perlu hati-hati siapa perempuannya, di mana, kapan, ada saksinya apa engga,” ujarnya melalui telepon, Sabtu (29/12) malam.

Menurutnya, kalau memang hal tersebut terjadi atas fakta dan data, pihaknya bersama dekan mempersilahkan memberikan laporan ke pihak berwajib. Namun, pihaknya juga akan berhati-hati dalam melihat masalah tersebut. (apr/sur)




  • Bagikan