Utang Pemerintah Tembus Rp4,4 T, Ini Kata Sri Mulyani

  • Bagikan

radarlampung.co.id-Data utang pemerintah tahun 2018 tercatat Rp 4.418,3 triliun. Atau 29,98 persen dari total PDB (Rp 14.735,85 T). Menanggapi ini Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, utang merupakan instrument yang digunakan pemerintah dengan tanggungjawab dan berhati-hati. Kebijakan utang pun dibicarakan secara transparan.

“Tidak ugal-ugalan (pengelolaan utang). Dan kalau anda katakan apakah ini mengkhawatirkan? Lah, kalau Indonesia debt to GDP ratio-nya, utang terhadap PDB kita 30 persen, bandingkan dengan negara-negara lain, apakah itu mengkhawatirkan?” kata Sri Mulyani di Istana Negara, Jakarta dikutip dari JPPN, rabu (23/1).

Ani-sapaan Sri Mulyani-menyatakan, publik dipersilakan membandingkan utang pemerintah Indonesia dengan negara lain.

“Coba saja dibandingkan. Debt to GDP ratio setahu saya, 30 persen itu tidak tinggi, tapi kami juga tidak mengatakan kita kemudian mau sembrono. Kan tidak juga. Kami tetap hati-hati. Makanya kami katakan defisit akan semakin diperkecil,” ujar Ani.

Baca Juga:   Prokes di Masa Pandemi, BRI Perkenalkan Reservasi Online Pencairan BPUM

Dia juga mempertanyakan apakah dengan defisit APBN 2018 sebesar 1.76% dari PDB, lantas pemerintah dibilang ugal-ugalan? Dengan tegas, Ani menjawab tidak. Sebab, hal itu bisa dibandingkan dengan negara lain yang defisitnya lebih besar dibanding RI.

Bicara dampak, kata dia, infrastruktur tetap terjaga, pendidikan bisa dibiayai, kemiskinan bisa turun, kesempatan kerja bisa tercipta. Kemudian, masyarakat miskin bisa dilindungi.

“Ekonomi kena guncangan, defisitnya tidak harus membengkak. Negara lain defisitnya harus dinaikkan supaya ekonominya bisa tumbuh tinggi. Kita tidak harus menambah defisit tapi ekonomi tetap terjaga di atas 5 persen,” jelas menteri kelahiran Lampung tersebut. (net/wdi)

 




  • Bagikan