Wow, Satu Truk Mi Bantuan Korban Tsunami Dijual ke Bandarlampung

  • Bagikan

radarlampung.co.id – Bantuan untuk korban tsunami di Lampung Selatan diduga dimanfaatkan pihak tertentu. Di mana ada yang menawarkan barang-barang seperti mi instan, minyak goreng, beras, hingga pampers.

Menurut Prapti, salah seorang pedagang di Pasar Inpres Kalianda, ia sempat ditawari mi instan dengan harga murah oleh seseorang. Ia mengaku memiliki stok mi dalam jumlah banyak.

Males amat saya beli, walaupun murah. Itu kan, barang bantuan tsunami. Kok malah dijual. Pedagang di pasar ini banyak yang mengeluh. Karena orang itu menjual barang bantuan tsunami dengan harga di bawah standar. Kalau ngakunya, sih orang yang menjual itu warga Cukuh, Desa Sukaraja,” kata Prapti kepada Radarlampung.co.id, di Pasar Inpres Kalianda, Rabu (23/1).

Wanita 40 tahun ini juga mengungkapkan, orang yang menjual mi instan atau bantuan sembako lainnya mulai menjajakan barang sejak pukul 03.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB.

“Mereka dari jam 3 sampai jam 5 pagi. Suasananya masih gelap. Kalau mas mau tahu jelas, datang sebelum Subuh. Pasti ketemu dengan orang yang jual mi bantuan tsunami itu,” sebut dia.

Ternyata, transaksi jual beli barang-barang bantuan tsunami ternyata tidak hanya ada di Pasar Inpres Kalianda. Hal sama terjadi di lokasi terdampak bencana tsunami di Desa Waymuli, Kecamatan Rajabasa.

Baca Juga:   Fix, PPN Sewa Bangunan Ditanggung Pemerintah

Fei (30), warga Desa Waymuli mengatakan, banyak warga didesanya yang menjual barang bantuan tsunami seperti mi instan, beras, minyak goreng, pampers, dan pembalut wanita dengan harga rata-rata di bawah harga pasar.

Bantuan-bantuan tersebut dijual oleh warga ke penampung yang sengaja datang ke desa tersebut dengan membawa truk. “Ada yang menampungnya kok mas. Saya aja belum lama ini mengirim satu truk mie instan ke bos yang ada di Bandarlampung. Ya, harganya murah sih. Untuk mi rebus atau goreng, dijual Rp40 ribu per dus,” sebut Fei yang sempat menawarkan kepada Radarlampung.co.id barang yang bisa dibeli.

Menurut dia, selain mi instan, barang bantuan lain yang juga dijual oleh warga di antaranya beras, minyak goreng, pampers dan pembalut wanita. “Kalau bos saya, khusus mi saja yang dibeli. Sedangkan untuk beras, minyak goreng dan lain sebagainya itu dijual oleh warga ke penampung yang datang dari Bakauheni dan Pasuruan. Mungkin yang beli itu untuk dijual kembali,” terangnya.

Dilanjutkan, dijualnya barang-barang bantuan tsunami tersebut karena jumlah yang diperoleh warga sudah terlalu banyak. Warga khawatir lama-kelamaan disimpan bisa kadaluarsa. Selain itu, warga juga membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan yang lain.

Baca Juga:   Sebelum Bunuh Diri, Curhat ke Tetangga Soal Kesulitan Ekonomi

“Selama ini kan, yang dikasih cuma bantuan berupa logistik dan peralatan rumah tangga saja. Sementara warga, khususnya korban tsunami butuh uang untuk belanja kebutuhan lainnya.  Oleh karena itu, bantuan-bantuan yang diperoleh dijual. Tapi memang ada juga warga yang tidak terkena dampak tsunami ikut-ikutan menjual bantuan tersebut. Ia dapat bantuan saat ikut-ikutan mengungsi waktu tsunami,” pungkasnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Lamsel AKP Efendi mengatakan pihaknya akan menyelidiki masalah tersebut. “Nanti kami selidiki,” ucapnya.

Sementara Kepala Dinas Sosial Lampung Selatan Dulkahar menilai sah-sah saja apabila bantuan itu dijual oleh korban tsunami yang rumahnya rusak berat. Namun apabila oknum yang memperjualbelikan bantuan itu, tindakan tersebut dapat berujung pidana.

“Sah-sah saja kalau yang menjual itu korban yang rumahnya rusak berat. Mungkin dia perlu uang untuk memenuhi kebutuhan lain. Karena bantuan yang terkumpul di Pemkab didominasi mi instan dan air kemasan. Namun kalau terbukti oknum itu bukan dari kalangan korban tsunami, polisi harus usut itu,” ucapnya. (iwn/rnd/ver/ais)

 

 

 

 




  • Bagikan