Ya Ampun…, Obat Penunjang Isolasi Mandiri Makin Langka

  • Bagikan
Ilustrasi: Freepik

RADARLAMPUNG.CO.ID – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bandarlampung mengimbau masyarakat mengambil peran dalam penanganan pandemi Covid-19 saat ini. Pesan ini disampaikan Ketua IDI Cabang Bandarlampung dr. Aditiya M Biomed.

Menurut Aditiya, masyarakat harus mengabil peran di tengah penambahan Covid-19 saat ini, salah satunya dengan tidak meremehkan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19. Sebab dengan masyarakat sehat, akan mengurangi beban rumah sakit.

“Jangan remehkan prokes Covid-19, Anda sehat, mengurangi beban rumah sakit,” ujarnya usai menghadiri rapat bersama di ruang rapat Wali Kota Bandarlampung, Kamis (8/7).

Kepada awak media Aditiya menuturkan, dalam rapat yang dipimpin Wakil Wali Kota Bandarlampung Deddy Amrullah, membahas beberapa permasalahan, seperti terkait penambahan tempat tidur pasien Covid-19. Pemerintah menginstruksikan rumah sakit negeri menambah 30 persen dan rumah sakit swasta 20 persen kapasitas tempat tidurnya.

“Mudah-mudahan bisa, karena gak gampang juga nyiapin tempat tidur dan segala perlengkapannya. Kemudian ada masukan terkait oksigen alhamdulilah ada jalan keluarnya. Memang kita sudah distop dari Jawa, tapi sekarang ambil dari Palembang,” ujarnya.

Baca Juga:   Tujuh Daerah di Lampung Ini Berstatus Zona Merah Covid-19

Ia pun mengajak semua pihak mengambil peran, sebab dengan masyarakat semakin sadar prokes, akan mengurangi beban rumah sakit. Begitu juga permasalahan berkaitan dari IDI. Ada masyarakat yang tengah melakukan isolasi mandiri, namun kesulitan mencari obat.

“Azitromisin sudah hilang dari pasaran. Kami juga minta dinas bagaimana menertibkan kemungkinan ada orang menimbun. Masak Vitamin C gak ada, Vitamin E gak ada. Orang isolasi mandiri biar tambah sehat dengan obat-obat seperti itu,” terangnya.

Menurutnya, yang paling fatal hilangnya oximeter di pasaran. Sebab alat tersebut penting untuk mengukur saturasi oksigen untuk pasien isolasi mandiri. “Mutlak perlu, kalau data masih 95 cukup di rumah saja. Kalau di bawah 95 harus ke rumah sakit,” terangnya.

Tentu, dirinya mengajak semua pihak bersama menertibkannya. Dikatakannya, Kepala Dinas Kesehatan berjanji akan menyurati gabungan pengusaha alat-alat medis. “Bisa juga ngasih imbauan seperti di Jakarta. Masyarakat dengan gejala ringan tidak perlu ke rumah sakit, tapi disiapkan tempat lain seperti asrama haji,” terangnya.

Baca Juga:   Maaf, Stok Vaksin di Bandarlampung Sedang Kosong

“Kendala juga SDM, seperti dokter dan perawat. Teman-teman saya ada bantu di RS Unila sudah gak sanggup, sekarang cuma di RSUD Tjokrodipo saja. Karena rumah sakit yang ada dokter banyak kena dan isoma jadi gantian. Sembuh satu yang satu kena,” jelasnya.

Disinggung ketersediaan oksigen, menurutnya masih ada, namun cukup mengkhawatirkan. “Saya sangat menghargai pertemuan ini, jadi langkah antisipasi apa yang akan dikerjakan. Jangan sampai sudah macem-macam baru mau bertindak. Liat postingan di masyarakat sudah membeludak di RSUDAM, itu nyata loh. Harus cepat diantisipasi. Salah stunya ada ide asrama haji,” ungkapnya. (pip/sur)

Foto : Prima Imansyah Permana//

Ketua IDI Cabang Bandarlampung dr.Aditiya M Biomed.




  • Bagikan