Mobil Listrik Tidak Jadi Sumber Radiasi Berbahaya, Ini Temuan Peneliti

gambar-user/vsbaohl95I0rY7S5BRF4IPxfUmd3n0dZuZDBnGyU.webp
M. Nabil Mamnun - Senin, 08 Des 2025 - 15:27 WIB
Ilustrasi pengguna kendaraan listrik menunggu proses pengisian daya di stasiun charging publik.
Ilustrasi pengguna kendaraan listrik menunggu proses pengisian daya di stasiun charging publik. - instagram.com/@adac

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID - Kekhawatiran mengenai paparan radiasi dari baterai mobil listrik kerap muncul di masyarakat.

Pasalnya, banyak yang mengira perangkat bertegangan tinggi pada kendaraan listrik dapat menimbulkan efek radiasi berbahaya.

Namun, sebuah studi terbaru memberikan penjelasan yang justru menenangkan.

Penelitian yang dilansir dari Carscoops dan dilakukan klub otomotif Jerman ADAC menunjukkan bahwa mobil listrik tidak menjadi “ruang radiasi tersembunyi” seperti yang sering dibayangkan.

Advertisements

Hasil riset mendalam tersebut menemukan bahwa pengemudi dan penumpang hanya terpapar medan elektromagnetik pada level yang sangat rendah.

Studi yang ditugaskan oleh Kantor Federal Perlindungan Radiasi Jerman (BfS) itu menguji 11 mobil listrik, beberapa kendaraan hibrida, serta satu unit mobil bensin konvensional.

Para insinyur ADAC menempatkan 10 sensor pada boneka uji berbentuk kursi dan memindahkannya ke sedikitnya dua posisi duduk untuk mengukur kekuatan medan magnet saat kendaraan dikemudikan maupun diisi daya.

Selama pengujian di jalan, tim menemukan lonjakan singkat pada medan magnet ketika mobil berakselerasi keras, mengerem, atau saat komponen listrik aktif.

Advertisements

Namun, lonjakan tersebut disebut wajar pada sistem bertegangan tinggi dan masih berada jauh di bawah batas aman yang direkomendasikan lembaga internasional.

ADAC menyebutkan, medan listrik dan kerapatan arus yang dapat muncul di dalam tubuh manusia tetap berada dalam batas aman untuk kategori paparan publik.

Nilai tertinggi justru terdeteksi di area ruang kaki (footwell), bukan di area kepala. Karena itu, tidak ditemukan aktivitas elektromagnetik yang dapat mengganggu sel, saraf, ataupun alat pacu jantung.

Temuan menarik lainnya adalah peran fitur pemanas kursi.

Advertisements

Komponen ini menghasilkan pembacaan elektromagnetik relatif lebih tinggi dibanding bagian lain, baik pada mobil listrik, hibrida plug-in, maupun mobil mesin pembakaran.

Meski begitu, angkanya tetap jauh dari level berbahaya yang perlu dikhawatirkan.

Variasi paling signifikan terjadi di area ruang kaki dekat unit penggerak listrik dan kabel tegangan tinggi, sementara area kepala dan badan menunjukkan paparan yang sangat rendah.

Artinya, tingkat radiasi pada kabin mobil listrik masih sebanding dengan perangkat elektronik rumah tangga pada umumnya.

Advertisements

Pengisian daya juga tidak memberikan perubahan signifikan.

Pengisian AC menghasilkan pembacaan medan magnet lebih kuat pada awal sesi pengisian, tetapi tetap dalam rentang aman.

Menariknya, pengisian cepat DC justru menghasilkan medan lebih lemah dibanding pengisian AC.

Sejumlah penelitian internasional lain, termasuk laporan Joint Research Centre (JRC) Uni Eropa dan berbagai studi akademik, mendukung hasil riset ADAC.

Advertisements

Paparan elektromagnetik pada mobil listrik rata-rata hanya berada pada kisaran 1–20 persen dari ambang batas keamanan internasional, dan bahkan kurang dari 2 persen di area kepala penumpang.

Dengan data tersebut, para ahli menegaskan bahwa kendaraan listrik tidak lebih berbahaya dibanding kendaraan modern lainnya.

Dalam beberapa kasus, mobil listrik bahkan menghasilkan “electrosmog” yang lebih rendah dibanding mobil bensin.

Studi terbaru ini menunjukkan bahwa mobil listrik tetap aman digunakan dan tidak memberikan risiko radiasi berlebih seperti yang selama ini dikhawatirkan.

Advertisements

Teknologi EV dinilai dapat terus berkembang tanpa menimbulkan ancaman kesehatan baru terkait elektromagnetik.

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

 

 

Advertisements

Share:
Editor: Ari Suryanto
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements