RADARLAMPUNG.CO.ID - Minat generasi muda Jepang untuk bepergian ke luar negeri terus menunjukkan tren penurunan.
Kondisi ini mulai memicu kecemasan di industri penerbangan, khususnya maskapai nasional Jepang, Japan Airlines (JAL), yang mengandalkan rute internasional sebagai salah satu penopang bisnisnya.
Presiden Japan Airlines, Mitsuko Tottori, menilai fenomena tersebut sebagai ancaman jangka panjang.
Sejak menduduki jabatan puncak pada awal 2024, dirinya secara terbuka mengakui bahwa rendahnya minat anak muda bepergian ke luar negeri dapat berdampak luas, tidak hanya bagi maskapai, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi Jepang ke depan.
Pernyataan itu disampaikannya seperti dikutip dari One Mile At a Time, Selasa (13/1/2026).
Salah satu faktor utama yang memicu perubahan perilaku ini adalah melemahnya nilai tukar Yen.
Kurs yang tidak menguntungkan membuat biaya perjalanan internasional melonjak tajam bagi warga Jepang.
Ditambah lagi dengan mahalnya tarif hotel serta harga makanan di destinasi populer seperti Amerika Serikat dan Eropa, perjalanan ke luar negeri kini dianggap terlalu membebani kantong.
Tottori menyebut bahwa maskapainya tidak memiliki banyak pilihan selain berharap kondisi mata uang segera membaik.
Meski begitu, JAL tetap berupaya menarik kembali minat generasi muda melalui berbagai strategi, mulai dari peluncuran program Dream Miles Pass.
Program ini dapat mempermudah pengumpulan miles, hingga JAL Card Skymate yang menawarkan harga tiket lebih ramah bagi pelancong muda.
Selain insentif harga, JAL juga mencoba pendekatan emosional dengan menghadirkan livery khusus bergambar bintang bisbol dunia, Shohei Ohtani, pada badan pesawat mereka.
Langkah ini ditujukan untuk membangun kedekatan dengan generasi milenial dan Gen Z.
Dampak dari menurunnya minat wisatawan muda Jepang paling terasa di destinasi yang dulu sangat populer, seperti Hawaii.
Kombinasi antara Yen yang lemah, biaya akomodasi yang semakin mahal di Amerika Serikat, serta perubahan preferensi generasi baru membuat jumlah wisatawan Jepang ke wilayah tersebut merosot tajam.
Sejumlah pihak bahkan menilai masa kejayaan Hawaii sebagai destinasi favorit turis Jepang sulit terulang kembali.
Meski demikian, tidak semua pengamat memandang situasi ini sebagai kabar buruk.
Lemahnya Yen justru mendorong lonjakan wisatawan asing ke Jepang karena biaya berlibur menjadi relatif murah.
Di sisi lain, warga Jepang yang memilih berwisata di dalam negeri turut menggerakkan roda ekonomi domestik.
*(Peserta Magang Kemnaker Batch 1