RADARLAMPUNG.CO.ID – Peneliti keamanan siber dari Kaspersky kembali menemukan varian baru dari malware SparkCat Trojan yang muncul di dua toko aplikasi populer, yakni Apple App Store dan Google Play.
Temuan ini muncul sekitar setahun setelah malware tersebut sebelumnya terdeteksi dan dihapus dari kedua platform aplikasi tersebut.
Dalam analisis terbaru, tim Kaspersky Threat Research mengidentifikasi dua aplikasi yang tampak normal namun telah disusupi malware di App Store, serta satu aplikasi yang terinfeksi di Google Play.
Aplikasi yang terdampak di antaranya adalah aplikasi perpesanan yang dirancang untuk komunikasi perusahaan serta aplikasi layanan pemesanan makanan.
Meski terlihat seperti aplikasi biasa, program tersebut ternyata menyembunyikan kode berbahaya yang mampu mengakses data tertentu dari perangkat pengguna.
Berdasarkan data telemetri yang dikumpulkan oleh Kaspersky, aplikasi yang mengandung SparkCat tidak hanya beredar melalui toko aplikasi resmi. Beberapa di antaranya juga ditemukan tersebar melalui sumber pihak ketiga.
Menariknya, beberapa situs web distribusi tersebut bahkan dirancang menyerupai tampilan App Store ketika diakses melalui perangkat iPhone, sehingga membuat pengguna lebih mudah tertipu.
Pada perangkat Android, varian terbaru SparkCat diketahui bekerja dengan memindai galeri foto pengguna. Malware ini mencari tangkapan layar yang mengandung kata kunci tertentu.
Target utama dari aktivitas tersebut diduga berkaitan dengan aset kripto milik pengguna, terutama yang berada di kawasan Asia.
Menurut pakar keamanan siber dari Kaspersky, Dmitry Kalinin, malware ini menggunakan teknologi pengenalan karakter optik untuk membaca teks yang terdapat pada gambar yang tersimpan di perangkat.
Jika sistem menemukan kata kunci yang dianggap relevan, gambar tersebut kemudian dikirimkan kepada pihak penyerang.
Selain kemampuan tersebut, SparkCat versi terbaru di Android juga dilaporkan memiliki lapisan pengamanan tambahan yang membuatnya lebih sulit dideteksi.
Beberapa teknik yang digunakan antara lain virtualisasi kode serta pemanfaatan bahasa pemrograman lintas platform. Pendekatan ini tergolong jarang digunakan pada malware seluler sehingga menambah kompleksitas dalam proses analisis.
Sementara itu, varian yang menyerang perangkat iOS memiliki cara kerja yang sedikit berbeda.
Alih-alih hanya memindai kata kunci umum, malware tersebut dirancang untuk mencari frasa mnemonik yang biasa digunakan pada dompet aset kripto.
Karena frasa tersebut umumnya menggunakan bahasa Inggris, potensi jangkauan serangan pada perangkat iOS dinilai bisa lebih luas.
Berdasarkan kemiripan antara sampel malware terbaru dengan versi sebelumnya, para peneliti menduga bahwa pengembangnya kemungkinan berasal dari kelompok yang sama.
Temuan ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman siber di perangkat seluler terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan aplikasi dan layanan digital.
Menanggapi temuan tersebut, Kaspersky menyatakan telah melaporkan aplikasi yang teridentifikasi berbahaya kepada Google dan Apple agar dapat segera ditindaklanjuti.
Para pakar keamanan juga mengingatkan pengguna ponsel pintar untuk lebih berhati-hati saat mengunduh aplikasi serta mempertimbangkan penggunaan solusi keamanan tambahan untuk melindungi perangkat dari ancaman malware.
(*Peserta Magang Kemnaker Batch 1