JAKARTA- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Bestari Saintek serta Sinergi Kreasi Masyarakat dan Akademisi untuk Kemajuan Sains dan Teknologi Nusantara (Semesta) Tahun Anggaran 2026.
Peluncuran yang berlangsung di kantor Kemdiktisaintek pada Rabu (29/4) ini menandai babak baru penguatan ekosistem riset nasional yang berbasis pada solusi nyata bagi masyarakat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa riset di perguruan tinggi tidak boleh berhenti di atas kertas atau sekadar menjadi publikasi jurnal ilmiah.
"Riset yang kita lakukan harus terus berkontribusi pada pengembangan keilmuan. Namun lebih dari itu, harus kita lanjutkan menjadi karya nyata yang benar-benar bisa digunakan dan memudahkan kehidupan masyarakat di sekitar kita," tegas Brian.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani, mengungkapkan bahwa program ini menarik minat yang luar biasa dari kalangan akademisi. Dari total 8.951 pendaftar pada tahap awal, hanya 122 tim riset yang dinyatakan lolos seleksi ketat hingga tahap pendanaan.
"Hanya 4,9 persen total pendaftar yang berhasil terpilih. Ini menunjukkan standar evaluasi yang sangat kompetitif," ujar Najib. Adapun proposal yang terpilih mencakup delapan sektor strategis, mulai dari pangan, kesehatan, energi terbarukan, hingga sosial humaniora dan kebencanaan.
Program ini juga mendorong Non-Traditional Research Output (NTRO), di mana luaran riset diarahkan menjadi prototipe, model bisnis, atau kebijakan yang siap diimplementasikan di industri maupun masyarakat.
Keberlanjutan program ini didukung penuh oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyebutkan alokasi dana sebesar Rp57,5 miliar telah disiapkan dengan tingkat penyerapan yang hampir mencapai 100 persen.
"Kami berharap peluncuran ini benar-benar memberi dampak nyata, mendorong kolaborasi partisipatif, dan memanfaatkan hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia," kata Ayom.
Program Bestari Saintek disambut antusias oleh perguruan tinggi. Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI), Hambali Talib, menilai program ini adalah momentum untuk memperkuat Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.
Sejumlah peneliti yang lolos pendanaan pun mulai memaparkan inovasi mereka.
Betty Istanti Suwandayani dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), misalnya, mengusung program Smart STEM untuk edukasi pengelolaan sampah di tingkat dasar.
Sementara itu, Muhammad Siddiq Wicaksono dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membawa riset unik Wellness Living Lab, yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dari manuskrip kuno Jawa ke dalam inovasi kebugaran modern.
Melalui sinergi antara pemerintah, 64 perguruan tinggi, dan 56 mitra industri, Program Bestari dan Semesta 2026 diharapkan mampu mempercepat transformasi hasil riset menjadi solusi konkret bagi pembangunan nasional.