Guru Besar UIN RIL Bedah Makna Filosofis Haji: Bukan Sekadar Ritual Fisik, Pesan Tauhid dan Sosial

gambar-user/fF2dADsWWGKPuvfTa5ukI37bUPGDen9R9O3fq80p.webp
Anggi Rhaisa - Minggu, 24 Mei 2026 - 06:42 WIB
Guru Besar Sosiologi Dakwah UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag.
Guru Besar Sosiologi Dakwah UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag. - Foto Dok. Pribadi

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

BANDAR LAMPUNG- Ibadah haji bukan sekadar ritual fisik dan gerakan manasik semata. 

Di balik setiap rangkaian prosesinya, terdapat pesan tauhid yang mendalam sekaligus laboratorium sosial terbesar bagi umat manusia.

Hal tersebut dikupas tuntas oleh Guru Besar Sosiologi Dakwah UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag

Menurutnya, dalam perspektif Sosiologi Dakwah, haji merupakan implementasi tauhid yang memancar kuat dalam dimensi sosial (syiar Islam).

Advertisements

"Tiap manasik itu ada pelajaran tauhid dan latihan hidup bermasyarakat. Haji adalah laboratorium umat Islam untuk belajar sama rata, disiplin, dan kendali diri dalam skala terbesar di dunia," ujar Prof. Abdul Syukur.

6 Makna Filosofis Prosesi Haji Menurut Prof Abdul Syukur:

1. Makna Ihram: Simbol Egalitarianisme Islam

Secara ketauhidan, melepas pakaian berjahit, parfum, dan penutup kepala adalah simbol pelepasan seluruh atribut dunia. Manusia kembali ke fitrah dan setara di hadapan Allah (QS. Al-Hujurat: 13).

Advertisements

Sisi Sosial: Kain ihram menyatukan raja dan kuli dalam tampilan yang sama. Hilang status sosial, suku, maupun warna kulit. Larangan berdebat dan bermaksiat saat ihram menjadi latihan mengendalikan diri demi kemaslahatan bersama.

2. Makna Thawaf: Pusat Persatuan Umat

Mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran merupakan simbol 

kesempurnaan ibadah yang utuh dan penegasan bahwa hati harus selalu berporos kepada Allah (Tauhid Uluhiyah).

Advertisements

Sisi Sosial: Jutaan jamaah yang berdesakan namun tetap tertib dan saling mendahulukan yang lemah adalah potret kerukunan. 

Ka'bah yang satu menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia tanpa sekat batas negara.

3. Makna Sa’i: Angkat Martabat Wanita dan Kaum Lemah

Napak tilas perjuangan Siti Hajar berlari antara Safa dan Marwah mengajarkan sinergi antara ikhtiar dan tawakal. 

Advertisements

Allah tidak menurunkan air Zamzam sebelum ada usaha nyata sebanyak 7 kali.

Sisi Sosial: Diabadikannya jejak Siti Hajar seorang perempuan dan budak dari Habašah menjadi bukti Islam mengangkat martabat wanita. 

Selain itu, adanya jalur khusus lansia dan difabel saat Sa'i mencerminkan Islam yang ramah terhadap kaum lemah.

4. Makna Tahalul: Memotong Ego dan Kesombongan

Advertisements

Memotong rambut dalam tahalul menjadi simbol merendahkan diri dihadapan Sang Pencipta, sekaligus kesiapan mengorbankan ego layaknya keikhlasan Nabi Ismail AS.

Sisi Sosial: Sunnah memotong rambut secara merata mengisyaratkan hilangnya pamer gaya atau tren. 

Semua jamaah kembali ke kehidupan biasa dengan pribadi baru yang lebih rendah hati.

5. Makna Mabit di Mina dan  Muzdalifah: Solidaritas Puncak

Advertisements

Tidur di alam terbuka beralaskan pasir mengingatkan jamaah akan kematian dan alam kubur, bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara.

Sisi Sosial: Di bawah tenda tanpa sekat, jamaah lintas negara, ras, dan kelas sosial tidur berhimpitan. Momen saling berbagi alas tidur dan membantu mengumpulkan kerikil di Muzdalifah menjadi puncak solidaritas umat.

6. Makna Lempar Jumrah: Komitmen Kolektif Melawan Kebatilan

Meniru ketegasan Nabi Ibrahim AS saat mengusir setan, lempar jumrah adalah simbol perlawanan terhadap hawa nafsu, syirik, dan musuh batin di dalam hati.

Advertisements

Sisi Sosial: Melakukan lempar jumrah bersama jutaan orang melatih kesabaran agar tidak mencelakai orang lain. Ini memberikan isyarat bahwa memerangi kejahatan dan kemungkaran di masyarakat harus dilakukan secara kolektif, bukan sendiri-sendiri.

Ujian Nyata Setelah Kembali ke Indonesia 

Prof Abdul Syukur mengutip pesan mendalam dari Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad: "Haji berarti mengulang sejarah tauhid agar hati hidup kembali."

Oleh karena itu, beliau menegaskan bahwa indikator kemabruran haji justru diuji saat jamaah telah kembali ke lingkungan asalnya.

Advertisements

"Jadi kalau pulang haji tapi masih sombong, pelit, dan gampang berdebat, berarti tapak tilas Nabi Ibrahim belum meresap ke dalam hati. Hajinya belum mabrur," tegasnya.

Prof Abdul Syukur mengajak seluruh jemaah haji untuk memaknai setiap prosesi dengan ikhlas, sabar, dan tawakal.

Kesalehan ritual (tauhid) yang kokoh selama di tanah suci harus mampu memancar menjadi kesalehan sosial yang membawa kedamaian, menolong sesama, serta menjaga persatuan di tengah perbedaan.

 

Advertisements

Share:
Editor: Anggi Rhaisa
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements