RADARLAMPUNG.CO.ID - Pakai motor listrik untuk aktivitas harian sebenarnya makin praktis, tetapi rasa waswas soal “kehabisan daya” masih sering muncul di kalangan pengguna.
Kekhawatiran ini biasanya terjadi karena pengendara belum terbiasa memetakan titik pengisian atau penukaran energi, terutama saat berpindah wilayah.
Padahal, jaringan infrastruktur kendaraan listrik terus bertambah dan lokasinya bisa dicek langsung melalui aplikasi resmi.
Hal penting yang perlu dipahami sejak awal, motor listrik tidak hanya bergantung pada SPKLU.
Untuk roda dua, layanan yang paling sering dipakai adalah SPBKLU, yaitu stasiun penukaran baterai, sehingga pengendara cukup menukar baterai kosong dengan baterai terisi.
Sementara SPKLU adalah titik pengisian daya, yang digunakan untuk mengisi baterai kendaraan secara langsung, termasuk pada beberapa motor listrik tertentu yang mendukung sistem cas.
Pertumbuhan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik kini terlihat jelas dalam data resmi.
PLN dalam paparan kesiapan mudik 2025 mencatat jumlah SPKLU telah mencapai 3.385 unit yang tersebar di 2.306 lokasi di Indonesia per 18 Februari 2025.
Data tersebut juga menyebut jalur mudik Sumatera–Jawa meningkat hingga 1.000 unit SPKLU di 645 lokasi.
Sementara dari sisi pemerintah, Kementerian ESDM mencatat hingga akhir Juli 2025 jumlah SPKLU yang terbangun sudah 4.186 unit dan tersebar di 2.789 lokasi.
Dalam catatan yang sama, ESDM juga menyebut fasilitas swap baterai telah mencapai 1.902 unit, yang relevan bagi ekosistem motor listrik berbasis tukar baterai.
Dengan data tersebut, pengendara sebenarnya tidak perlu lagi mengandalkan “perkiraan” saat mencari titik isi daya atau tukar baterai.
Kuncinya adalah mengecek lokasi SPKLU atau SPBKLU melalui PLN Mobile.
Di aplikasi itu, pengguna bisa membuka menu layanan kendaraan listrik untuk melihat peta lokasi terdekat, lengkap dengan alamat titik yang bisa dituju.
Pada fitur tertentu, PLN Mobile juga menyediakan Trip Planner untuk membantu menyusun rute perjalanan sekaligus melihat titik SPKLU di jalur yang dilewati.
Pengguna cukup membuka aplikasi, masuk ke menu Electric Vehicle, lalu memilih Trip Planner untuk menampilkan rute, titik SPKLU, dan estimasi waktu pengisian daya.
Cara pakainya relatif sederhana dan bisa dilakukan siapa pun.
Pengendara cukup mengaktifkan lokasi di ponsel, lalu membuka menu EV dan memilih titik terdekat sesuai kebutuhan, apakah pengisian daya atau penukaran baterai.
Setelah itu, pengendara bisa menavigasi langsung ke lokasi, sehingga risiko “kehabisan energi di jalan” dapat ditekan sejak awal.
Meski infrastruktur terus berkembang, pengendara tetap perlu mengubah kebiasaan saat memakai motor listrik.
Jangan menunggu baterai terlalu rendah, karena jarak aman menuju titik pengisian atau penukaran jadi makin sempit.
Idealnya, pengguna sudah menandai beberapa titik di area rumah, kantor, dan jalur rutin, sehingga pilihan lokasi selalu tersedia ketika dibutuhkan.
Bagi pengguna yang motornya mendukung sistem penukaran baterai, SPBKLU bisa menjadi solusi paling cepat.
Prosesnya cenderung lebih singkat dibanding menunggu pengisian daya, sehingga cocok untuk mobilitas padat di wilayah perkotaan.
Namun, pengguna tetap harus memastikan baterainya kompatibel dengan ekosistem yang tersedia di wilayah tersebut.
Pada akhirnya, rasa waswas saat memakai motor listrik tidak selalu disebabkan minimnya fasilitas.
Masalah paling sering justru karena pengendara belum terbiasa mengakses peta titik layanan dan merencanakan energi sebelum berangkat.
Dengan memanfaatkan PLN Mobile dan membiasakan diri mengecek titik SPKLU atau SPBKLU di wilayah masing-masing, perjalanan menggunakan motor listrik bisa jauh lebih tenang dan terukur.(*)