BANDAR LAMPUNG- Industri taksi listrik di tanah air tengah berada dalam pengawasan ketat pemerintah menyusul tragedi kecelakaan maut di perlintasan Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu.
Insiden yang melibatkan taksi listrik Green SM (VinFast) dengan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek tersebut mengakibatkan 16 korban jiwa dan memicu audit besar-besaran terhadap standarisasi keamanan kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bergerak cepat dengan melakukan audit investigasi menyeluruh terhadap operasional dan manajemen pool taksi Green SM.
Fokus utama penyelidikan saat ini tertuju pada dugaan kegagalan teknis saat kendaraan melintasi rel kereta api.
Puslabfor Polri tengah mendalami kemungkinan adanya pengaruh medan magnet dari rel kereta api yang menyebabkan mesin taksi listrik mati mendadak atau mogok di tengah perlintasan.
Selain faktor keamanan, industri EV di Indonesia juga menghadapi tantangan regulasi baru. Per 1 April 2026, kendaraan listrik tidak lagi menikmati bebas pajak tahunan (PKB 0 persen).
Pemerintah mulai menerapkan tarif normal, meski Pemerintah Daerah (Pemda) masih diberikan kewenangan untuk memberikan insentif khusus guna menjaga minat transisi energi.
Tren Global: Pasar Taksi Listrik Tetap Agresif
Meski pasar Indonesia sedang terguncang insiden Bekasi, secara global tren taksi listrik justru menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif pada Mei 2026.
1. Proyeksi Nilai Pasar Fantastis
Pasar taksi listrik dunia diproyeksikan tumbuh dari USD 76,61 miliar pada tahun 2026 menjadi USD 515,48 miliar pada tahun 2034. Asia-Pasifik masih memimpin volume penjualan, disusul pertumbuhan pesat di wilayah Timur Tengah dan Afrika.
2. Dominasi BYD dan Ekspansi VinFast
Pabrikan asal Tiongkok, BYD, tetap mengukuhkan posisi sebagai pemimpin pasar, diikuti oleh Tesla dan Nissan.
Sementara itu, VinFast melalui unit Green SM tetap agresif melakukan ekspansi di Asia Tenggara meskipun tengah menghadapi perhatian publik.
3. Inovasi Teknologi: BaaS hingga Taksi Terbang
Industri global kini mulai beralih ke model Battery-as-a-Service (BaaS) untuk menekan harga jual. Selain itu, pada Beijing Auto Show 2026, diperkenalkan teknologi Valet Parking Driver (VPD) yang memungkinkan taksi parkir otomatis.
Bahkan, sektor taksi terbang listrik (eVTOL) diprediksi mencapai nilai US$ 4,43 miliar tahun ini, menunjukkan bahwa masa depan mobilitas udara perkotaan makin dekat.
Sehingga, pasca insiden bekasi, produsen taksi listrik kini dituntut meningkatkan fitur keamanan, terutama ketahanan baterai dan sistem kelistrikan terhadap guncangan serta gangguan eksternal.
Secara operasional, taksi listrik tetap dinilai lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan mobil konvensional atau menggunakan bahan bakar minyak (BBM) karena biaya perawatan yang rendah, meski insentif fiskal mulai dikurangi secara bertahap.
Proyeksi Nilai Pasar Fantastis
Pasar taksi listrik dunia diproyeksikan tumbuh dari USD 76,61 miliar pada tahun 2026 menjadi USD 515,48 miliar pada tahun 2034.
Asia-Pasifik masih memimpin volume penjualan taksi listrik, disusul pertumbuhan pesat di wilayah Timur Tengah dan Afrika.