RADARLAMPUNG.CO.ID - Di sebuah desa kecil di Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur, Sarasire duduk di depan tenunannya yang penuh warna.
Jemarinya berhenti sejenak lalu matanya berkaca-kaca mengingat perubahan yang ia rasakan.
“Beta seng sangka bisa dapat listrik gratis tanpa bayar apa-apa,” katanya lirih.
Sarasire mengenang kehidupannya sebelum listrik masuk ke rumahnya.
“Dulu kalau menenun beta tunggu matahari,” ujarnya.
Ia mengaku ketika hujan atau mendung dirinya tidak bisa bekerja sama sekali.
“Sekarang terang ada listrik dan beta bisa menenun kapan saja,” ungkapnya.
Senada dengan Sarasire, Erens Taneo menggambarkan kesulitan hidup tanpa listrik di desanya.
“Dulu kita belum punya listrik dan susah sekali,” ujarnya.
Ia bercerita bahwa saat malam seluruh rumah gelap dan aktivitas menjadi sangat terbatas.
“Kita mau makan juga susah karena gelap sekali,” tambahnya.
Anak-anaknya bahkan harus berjuang keras untuk belajar pada malam hari.
Ia menunjuk lampu minyak kecil di sudut rumah sebagai saksi bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.
“Pelita itu paling tinggi dua malam,” jelasnya.
Setelah dua malam mereka harus membeli minyak lagi yang kini semakin mahal dan sulit didapat.
Hari itu hidupnya berubah ketika sakelar dinyalakan dan lampu menyala terang.
Ia tersenyum lebar melihat rumahnya kini memiliki penerangan yang layak.
“Sekarang saya bersyukur karena sudah punya listrik,” ujarnya.
Ia mengatakan anak-anaknya kini bisa belajar pada malam hari tanpa hambatan.
“Terima kasih kepada pemerintah yang memberikan kami listrik gratis,” jelasnya.
Setiap malam rumah yang dulu gelap kini memancarkan cahaya harapan.
Anak-anak dapat belajar tanpa takut gelap dan orang tua lebih nyaman beraktivitas dalam terang.
Kehadiran listrik mengubah hidup masyarakat karena tidak hanya memberi penerangan tetapi juga menyalakan harapan masa depan.
Kisah Sarasire dan Erens Taneo menggambarkan manfaat nyata bagi warga di Provinsi NTT.
Program Bantuan Pasang Baru Listrik atau BPBL menjadi bagian upaya pemerintah mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo.
Program ini fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kecil dan percepatan akses energi bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam keterangan tertulis Kementerian ESDM pada Kamis 11 Desember 2025, Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa BPBL adalah bentuk keberpihakan negara.
Program ini menyasar warga yang berada dalam jaringan listrik PLN tetapi tidak mampu membayar biaya pasang baru.
“Ada warga yang jaringannya sudah ada tetapi tidak bisa pasang karena tidak mampu,” kata Bahlil.
“Pemerintah hadir mengatasi itu dan BPBL ini tidak dipungut biaya,” lanjutnya.
Bahlil turut menceritakan pengalamannya sebagai kernet angkot saat muda di Fakfak Papua Barat.
Ia mengetahui persis beratnya hidup ketika listrik tidak stabil dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya tidak ingin anak-anak sekarang tumbuh dalam situasi seperti itu,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa program BPBL sangat penting sebagai langkah menuju kehidupan yang lebih layak.
Menurutnya akses listrik bukan kemewahan tetapi kebutuhan dasar yang menentukan masa depan generasi selanjutnya.
“Tidak boleh ada generasi yang tumbuh dalam kondisi listrik tidak stabil,” ujarnya.
Program BPBL bukan hanya menyediakan listrik tetapi juga membuka peluang baru bagi keluarga kurang mampu.
Saat rumah terang anak dapat belajar dan usaha rumahan dapat berkembang lebih maksimal.
Keluarga juga dapat hidup lebih aman karena penerangan yang memadai setiap malam.
Pemerintah menegaskan bahwa program ini sepenuhnya gratis tanpa pungutan apa pun.
Jika warga mengalami atau menemukan pungli mereka dapat melapor melalui Contact Center ESDM 136.
Langkah ini dilakukan agar bantuan listrik benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak. ***