Isu Penghapusan Prodi Bikin Resah, Kepala LLDikti Wilayah II Prof. Iskhaq: Stop, Itu Salah Paham

gambar-user/fF2dADsWWGKPuvfTa5ukI37bUPGDen9R9O3fq80p.webp
Anggi Rhaisa - Selasa, 23 Jun 2026 - 16:37 WIB
Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Selasa, 23 Juni 2026.
Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Selasa, 23 Juni 2026. - Foto Anggi Rhaisa/Radar Lampung

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

BANDAR LAMPUNG – Isu liar mengenai kebijakan pemerintah pusat yang akan menghapus atau menutup program studi (prodi) di perguruan tinggi akhirnya dijawab tuntas. 

Kepala LLDikti Wilayah II, Prof Iskhaq Iskandar, menegaskan bahwa tidak ada agenda pemerintah untuk melakukan eksekusi penutupan prodi secara sepihak.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Iskhaq di sela-sela Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Selasa (23/6/2026).

"Yang ada itu transformasi kurikulum. Jangan salah kaprah, pemerintah tidak mungkin ujug-ujug datang menutup prodi. Kecuali, memang ada pelanggaran berat, seperti jual beli ijazah. Kalau prodi yang sehat, ya harus terus dikembangkan, bukan dihapus," tegas Prof. Iskhaq di hadapan pimpinan PTS se-wilayah II.

Advertisements

Prof. Iskhaq juga menginformasikan pentingnya kampus melakukan upgrade kurikulum agar tidak mencetak 'pengangguran terdidik'. Ia memberi contoh, mahasiswa prodi kependidikan (FKIP) jangan terus-menerus didoktrin hanya untuk menjadi guru di kelas.

"Mindset-nya harus dibuka. Lulusan pendidikan itu pendidik, edukator. Mereka bisa masuk ke industri, menjadi pengembang SDM di perusahaan multinasional, atau bahkan mengelola industri pendidikan sendiri seperti sekolah atau lembaga kursus," ungkapnya.

Pihaknya mendorong kampus untuk lebih berani mendatangkan praktisi dari industri sebagai pengajar. 

Tujuannya agar mahasiswa tidak hanya hafal teori, tapi tahu bagaimana mengelola 'bisnis' di bidang ilmu yang mereka pelajari.

Advertisements

Tak hanya soal kurikulum, Prof. Iskhaq membawa visi baru: menghilangkan ego sektoral antara PTN dan PTS. 

Ia ingin melihat riset-riset kampus tidak hanya berakhir jadi tumpukan jurnal di perpustakaan, tapi benar-benar menyentuh masyarakat.

Ia mencontohkan inovasi PLTA sederhana yang diciptakan dosen Universitas Muhammadiyah Palembang untuk daerah pelosok yang minim listrik.

"Kalau kerja sendiri, mungkin berat. Tapi kalau dikeroyok bareng-bareng lewat konsorsium PTN-PTS, dampaknya bakal terasa luar biasa bagi masyarakat yang selama ini gelap gulita," imbuhnya.

Advertisements

Raker  yang mengusung tema "Membangun Ekosistem Inovasi Semesta: Hilirisasi Riset Berdampak dan Elevasi IKU" ini menjadi momentum bagi PTS di Lampung untuk lebih kompetitif. 

Prof. Iskhaq menekankan bahwa pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) bukan sekadar formalitas administratif, melainkan ukuran seberapa jauh kualitas layanan kampus memberikan dampak bagi mahasiswanya.

"Kami ingin PTS di bawah LLDikti II ini benar-benar berdampak. Kampus yang lincah, kurikulumnya update, dan risetnya membumi. Itu kuncinya," pungkasnya.

Pernyataan ini tentu menjadi oase bagi para pengelola kampus di Lampung yang sempat waswas dengan isu penutupan prodi. Kini, bola panas ada di tangan pengelola kampus: apakah mau segera melakukan transformasi, atau memilih tertinggal oleh zaman?

Advertisements

 

Share:
Editor: Melida Rohlita
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements