RADARLAMPUNG.CO.ID – Minat calon mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) melalui Jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) terus menunjukkan tren yang menarik.
Hingga Jumat 23 Januari 2026, tercatat lima program studi sarjana (S1) menjadi yang paling diminati pendaftar.
Humas Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unila, Dr M. Komarudin, membenarkan hal tersebut.
Berdasarkan data sementara, lima program studi S1 dengan peminat terbanyak jalur SNBP yakni S1 Manajemen, S1 Akuntansi, S1 Pendidikan Dokter (PSPD), S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan S1 Hukum.
“Minat calon mahasiswa masih didominasi program studi sarjana, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, dan hukum,” ujar Komarudin.
Berbanding terbalik, jalur pendidikan vokasi Unila seperti program Diploma Tiga (D3) dan Diploma Empat (D4) masih tergolong sepi peminat. Hingga Jumat (23/1), terdapat lima program studi vokasi yang peminatnya masih rendah pada jalur SNBP.
Kelima prodi tersebut adalah D4 Teknologi Otomotif, D3 Teknik Survei dan Pemetaan, D3 Teknik Mesin, D3 Teknik Sipil, serta D3 Perpustakaan.
Komarudin juga menyampaikan bahwa total kuota penerimaan mahasiswa baru Unila tahun 2026 mencapai 9.915 mahasiswa. Pembagian kuota tetap mengikuti ketentuan nasional, yakni SNBP minimal 20 persen, SNBT minimal 40 persen, dan Jalur Mandiri maksimal 30 persen.
“Persentasenya masih sama seperti tahun lalu. SNBP dan SNBT memiliki batas minimal, sedangkan jalur mandiri dibatasi maksimal,” jelasnya.
Lebih lanjut, Komarudin menyebutkan bahwa terdapat sekitar 72 program studi Unila yang dapat dipilih melalui jalur SNBP, termasuk Program Studi S1 Gizi yang tahun ini resmi masuk dalam sistem SNBP.
“Tahun ini Prodi Gizi sudah muncul di SNBP. Namun daya tampungnya terbatas, hanya 10 orang melalui jalur SNBP,” ungkapnya.
Unila juga mengingatkan bahwa pendaftaran SNBP berlangsung mulai 12 Januari hingga 18 Februari.
Seluruh proses seleksi SNBP dan SNBT sepenuhnya dikelola oleh pusat, sementara Unila hanya berperan sebagai panitia lokal.
“Sistem, server, dan penilaian SNBP sepenuhnya di pusat. Kami hanya membantu koordinasi dan pendampingan di daerah,” katanya.
Terkait polemik sekolah yang siswanya diterima SNBP namun tidak mengambil kesempatan tersebut, Unila menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap sekolah terkait.
“Jika ada sekolah yang berulang kali siswanya tidak mengambil kursi SNBP, itu bisa menjadi pertimbangan kami ke depan. Kursi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan siswa lain yang benar-benar ingin kuliah,” tegas Komarudin.
Ia juga mengingatkan sekolah agar memastikan finalisasi data PDSS dilakukan tepat waktu. Pasalnya, kegagalan finalisasi dapat menggugurkan peluang siswa mengikuti SNBP.
“Kami akan terus memantau dan mengingatkan sekolah-sekolah agar kejadian seperti tahun lalu tidak terulang,” pungkasnya (*)