RADARLAMPUNG.CO.ID - Banjir dan pohon tumbang menjadi bencana paling dominan di Bandar Lampung sepanjang 2025.
Cuaca tidak menentu akibat curah hujan tinggi dan fenomena kemarau basah membuat risiko bencana meningkat sejak awal tahun.
Kalak BPBD Bandar Lampung Idham Basyar Saputra melalui Sekretaris BPBD Edi Susanto menyebut pihaknya terus memperkuat kesiapsiagaan.
“Sejak Januari sampai April sudah terjadi banjir, terutama di Panjang dan Telukbetung Selatan,” kata Edi.
Beberapa wilayah lain juga terdampak karena hujan deras masih terjadi meski memasuki musim kemarau.
Hingga pertengahan November BPBD tidak menerima laporan banjir baru, tetapi genangan muncul di Sukabumi akibat drainase tersumbat.
“Kemarin ada sumbatan di saluran air sehingga dua rumah terdampak,” ujar Edi.
Ia mengingatkan bahwa peningkatan curah hujan menjelang akhir tahun perlu diantisipasi secara serius.
Ancaman megathrust kembali mencuat setelah koordinasi BMKG dan Basarnas beberapa waktu lalu.
BPBD menyebut Bandar Lampung termasuk wilayah berisiko jika skenario terburuk tsunami terjadi.
“Potensi itu memang ada dan mitigasinya sudah kami jalankan sejak tahun lalu,” ujar Edi.
Ia menyebut BPBD menandatangani nota kesepahaman lintas sektor yang diprakarsai Basarnas untuk memperkuat mitigasi.
“MOU itu bukan sekadar seremoni, tetapi diikuti penerapan langsung di lapangan,” tegasnya.
Lima kecamatan pesisir menjadi fokus utama mitigasi tsunami, yakni Panjang, Bumi Waras, Telukbetung Selatan, Telukbetung Timur, dan Telukbetung Barat.
Sasaran paling prioritas adalah anak-anak karena jarak sekolah mereka sangat dekat dengan garis pantai.
“Kita mulai dari PAUD, TK, SD, sampai SMP karena kelompok usia ini belum memahami langkah darurat saat bencana,” kata Edi.
Permintaan pelatihan mitigasi juga datang dari sekolah swasta, BUMN, hotel, dan berbagai institusi lainnya.
“Minggu lalu kami melakukan simulasi di Sekolah Tiga Bahasa Penabur,” ujarnya.
Menjelang akhir tahun BPBD memastikan seluruh personel tetap siaga tanpa menunggu musim hujan.
“BPBD standby 1x24 jam dan Tim Reaksi Cepat siap turun kapan saja,” tegas Edi.
Laporan bencana biasanya meningkat pada sore dan malam hari ketika hujan deras disertai angin kencang.
BPBD mencatat 646 kejadian bencana sejak Januari hingga November 2025 di Bandar Lampung.
Pohon tumbang menduduki posisi pertama dengan 328 kejadian sepanjang tahun.
“Pohon tumbang rutin terjadi setelah hujan deras diikuti angin kencang,” katanya.
Banjir berada di posisi kedua dengan total 256 kejadian sepanjang tahun ini.
Tanah longsor tercatat 50 kejadian dan puting beliung terjadi 12 kali selama periode tersebut.
Tidak ada laporan gempa bumi maupun tsunami pada tahun 2025.
Enam warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret banjir serta tertimpa pohon tumbang.
“Data itu menunjukkan bencana bukan hanya merusak rumah, tetapi dapat merenggut nyawa,” ujar Edi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan agar risiko banjir dapat ditekan.
“Sampah di sungai dan gorong-gorong menjadi penyebab utama banjir,” ujarnya.
Edi meminta warga memangkas dahan pohon rimbun, memastikan aliran air lancar, dan segera melapor jika melihat potensi bahaya.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tugas BPBD karena semua warga punya peran dalam mengurangi risiko bencana,” pungkasnya.