RADARLAMPUNG.CO.ID - Bagi banyak orang, momen Natal di Indonesia bukan cuma soal libur dan kumpul keluarga.
Ada satu “ritual” kecil yang ikut membentuk memori masa kecil: duduk di depan televisi dan menonton Home Alone.
Film komedi keluarga yang dibintangi Macaulay Culkin itu seolah punya tempat spesial di hati penonton.
Bukan cuma karena ceritanya lucu dan ringan, tapi juga karena atmosfernya yang lekat dengan Natal, pohon cemara, salju, rumah penuh dekorasi, hingga liburan keluarga yang berujung kekacauan kocak.
Tak heran, Home Alone selama bertahun-tahun sering dianggap sebagai tontonan wajib setiap Natal.
Banyak penonton Indonesia mengingat film ini pernah muncul berulang kali di layar TV, terutama saat musim liburan akhir tahun.
Bahkan, jadwal siaran terdahulu menunjukkan Home Alone pernah beberapa kali tayang di televisi nasional, termasuk RCTI, dalam berbagai versi dan sekuel.
Secara pop culture, Home Alone bukan sekadar film komedi biasa.
Film ini sudah berubah menjadi simbol perayaan Natal itu sendiri.
Banyak media hiburan menyebut Home Alone identik dengan Natal karena latar kisahnya memang terjadi menjelang hari besar, ketika keluarga bepergian, rumah ramai, dan suasana liburan terasa kental.
Alasan Home Alone terasa “pas” diputar berulang-ulang saat NataL karena ia membawa rasa hangat, nostalgia, dan komedi yang bisa dinikmati lintas generasi.
Bahkan penonton yang sudah hafal adegan Kevin menjebak dua pencuri pun tetap merasa seru setiap kali menonton ulang.
Meski dulu Home Alone sering jadi menu tahunan TV saat Natal, belakangan pola menonton ikut berubah.
Kini, film-film klasik lebih mudah diakses lewat platform streaming, dan Home Alone pun termasuk salah satu judul yang tersedia secara legal untuk ditonton kapan saja.
Namun justru di situ letak uniknya: meski era tontonan sudah bergeser dari TV ke streaming, status Home Alone sebagai “film Natal” tidak ikut bergeser.
Nama film ini masih selalu muncul tiap Desember, dibahas ulang, dijadikan meme, bahkan masuk daftar rekomendasi tontonan liburan.
Daya tahan Home Alone sebagai pop culture juga terlihat dari bagaimana penggemarnya memperhatikan hal-hal kecil termasuk rumah ikonik dalam film.
Bahkan sempat ada pembahasan soal rumah Home Alone yang direstorasi untuk menghidupkan kembali nuansa Natal era 90-an karena banyak penggemar ingin mempertahankan “vibes klasiknya.”
Ini membuktikan Home Alone bukan sekadar tontonan musiman, tapi sudah menjadi bagian dari budaya Natal lintas negara, termasuk Indonesia.
Di tengah banyaknya film baru yang muncul setiap tahun, Home Alone tetap bertahan sebagai “comfort movie” yang diputar ulang tanpa rasa bosan.
Entah menontonnya lewat TV seperti dulu atau streaming seperti sekarang, film ini tetap membawa sensasi yang sama: Natal terasa lebih Natal ketika Home Alone diputar.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1