BANDAR LAMPUNG- Memasuki pengujung Triwulan I tahun 2026, kondisi ekonomi dan fiskal Provinsi Lampung menunjukkan resiliensi yang luar biasa.
Di tengah tingginya ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter ketat Amerika Serikat, fundamental ekonomi Sang Bumi Ruwa Jurai tetap terjaga di zona positif.
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Lampung, Purwadhi Adhiputranto, mengungkapkan bahwa APBN hadir sebagai shock absorber yang dioptimalkan untuk menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat fondasi pertumbuhan regional.
Berdasarkan data terbaru, kinerja perdagangan luar negeri Lampung pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$389,33 juta. Meski ekspor sempat terkontraksi tipis 1,57 persen (mtm) karena penurunan di sektor tambang dan tani, sektor industri pengolahan justru tumbuh impresif sebesar 7,13 persen (mtm).
"Ada sinyal optimisme besar pada penguatan kapasitas produksi industri kita. Ini terlihat dari lonjakan impor barang modal yang mencapai 103,39 persen secara bulanan," ujar Purwadhi dalam rilisnya di Aula Kanwil DJPb Lampung, Selasa, 12 Mei 2026.
Hingga 31 Maret 2026, realisasi Pendapatan Negara di Lampung mencapai Rp2.524,30 miliar (18,84% dari target).
Meski secara total terkontraksi akibat lesunya pajak perdagangan internasional (khususnya komoditas CPO), Pajak Dalam Negeri justru tumbuh perkasa sebesar 21,77 persen (yoy) dengan nilai Rp1.618,63 miliar.
Di sisi pengeluaran, Belanja Negara terealisasi sebesar Rp7.701,80 miliar. Salah satu poin menarik adalah akselerasi Belanja Kementerian/Lembaga (K/L) yang tumbuh signifikan 29,79 persen (yoy) atau mencapai Rp2.050,27 miliar.
"Defisit APBN regional Lampung tercatat Rp5.177,50 miliar. Defisit ini direncanakan sebagai bagian dari kebijakan fiskal ekspansif untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah tekanan eksternal," tambahnya.
Meski ekonomi makro stabil, Purwadhi memberikan catatan serius pada sektor perkebunan, khususnya Kakao.
Sebagai produsen kakao terbesar kelima di Indonesia, Lampung terancam kehilangan taringnya. Produksi kakao Lampung diprediksi anjlok dari 57.511 ton di tahun 2020 menjadi hanya 44.300 ton di tahun 2026.
Sejumlah tantangan menghantui, mulai dari populasi tanaman tua, serangan hama, hingga ancaman fenomena "Godzilla El Niño".
"Tanpa intervensi seperti program replanting (peremajaan) dan peningkatan kualitas pasca-panen lewat fermentasi, komoditas kakao kita berisiko kehilangan daya saing global. Sinergi antara pemerintah, petani, dan pihak swasta sebagai pembeli (off-taker) adalah kunci," tegasnya.
Dari sisi harga, masyarakat Lampung sedikit bernapas lega. Inflasi pada Maret 2026 terjaga rendah di level 1,16 persen (yoy).
Kenaikan tipis bulanan sebesar 0,19 persen dipicu oleh komoditas musiman seperti daging ayam ras, telur, beras, serta penyesuaian harga bensin nonsubsidi.
Dengan performa sektor riil yang masih berada di zona ekspansi (PMI Manufaktur 50,1), Lampung optimis mampu melewati dinamika ekonomi global tahun 2026 dengan tetap tangguh.