METRO - Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro bergerak cepat merespons musibah banjir yang merendam areal persawahan di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan.
Pihak DKP3 memastikan telah mengirimkan laporan resmi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terkait kondisi lahan pertanian yang terendam banjir akibat cuaca ekstrem pada pertengahan Februari 2026 lalu.
Kepala DKP3 Kota Metro, Heri Wiratno mengungkapkan, laporan tersebut telah ditembuskan kepada Wali Kota Metro sejak 19 Februari 2026 melalui surat nomor 500.6.12.2/210/D.09/03/2026. Laporan ini didasarkan pada hasil monitoring pertanaman musim tanam 2025/2026 pasca hujan deras yang mengguyur pada 15 hingga 18 Februari.
"Kondisi itu sudah lama kami monitor dan sudah dilaporkan ke provinsi. Nanti akan ada mekanisme bantuan tidak langsung bagi petani terdampak. Tapi prosesnya bertahap, jadi belum dikasih bantuan saat ini," ujar Heri saat dikonfirmasi pada Minggu, 5 April 2026
Heri menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi selama empat hari berturut-turut yang mengakibatkan Sungai Way Sekampung meluap. Luapan air tersebut kemudian menggenangi lahan pertanian warga di wilayah Metro Selatan.
Berdasarkan pendataan tim di lapangan yang melibatkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), koordinator penyuluh, hingga PPL, tercatat sedikitnya 5 hektare sawah di Kelurahan Rejomulyo terdampak genangan.
Tak hanya laporan awal, pada 23 Februari 2026, DKP3 kembali memperkuat koordinasi dengan mengirimkan surat telaah staf yang bersifat penting kepada Wali Kota Metro dengan nomor 500.6.4.2/217/D-09/03/2025.
Kegiatan monitoring ini, lanjut Heri, merupakan mandat dari Surat Keputusan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung mengenai penetapan target produksi komoditas pangan tahun 2026.
Mengenai potensi kerugian petani, Heri menyebut pihaknya masih melakukan pemantauan lebih lanjut. Hingga saat ini, status lahan masih dikategorikan terdampak banjir, namun belum diklasifikasikan secara detail sebagai gagal panen (puso).
"Yang jelas terjadi banjir. Kalau untuk kegagalannya (panen) itu relatif, karena belum kami klasifikasi tingkat kerusakannya. Yang utama adalah datanya sudah masuk ke provinsi agar bisa segera ditindaklanjuti," tutupnya.