RADARLAMPUNG.CO.ID - Layanan internet satelit Starlink semakin dikenal di Indonesia sebagai solusi konektivitas, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau jaringan kabel.
Namun, bagaimana sebenarnya perbandingan harga dan layanan Starlink dengan provider internet lokal per April 2026?
Per April 2026, Starlink menawarkan beberapa paket untuk pengguna rumahan.
Paket paling terjangkau berada di kisaran Rp479 ribu per bulan, sementara paket reguler mencapai sekitar Rp750 ribu.
Untuk kebutuhan mobilitas tinggi, paketnya bahkan bisa menyentuh lebih dari Rp1,6 juta per bulan.
Kecepatan internet yang ditawarkan berkisar antara 25 Mbps hingga 220 Mbps, tergantung kondisi jaringan dan lokasi pengguna.
Namun, yang menjadi perhatian utama adalah biaya awal. Pengguna diwajibkan membeli perangkat Starlink dengan harga sekitar Rp7,8 juta.
Biaya ini menjadi faktor pembeda signifikan dibanding layanan internet konvensional di Indonesia.
Di sisi lain, provider internet berbasis fiber optik seperti IndiHome, Biznet, hingga First Media masih menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau.
Paket internet rumahan dari provider lokal umumnya dimulai dari kisaran Rp220 ribu per bulan untuk kecepatan 20 Mbps.
Sementara itu, paket dengan kecepatan lebih tinggi, seperti 100 Mbps hingga 300 Mbps, berada di rentang Rp300 ribu hingga Rp700 ribu per bulan.
Selain itu, biaya pemasangan biasanya relatif murah, bahkan sering kali gratis dalam promo tertentu, tanpa kewajiban membeli perangkat mahal seperti Starlink.
Dari sisi performa, Starlink dan provider lokal sebenarnya cukup bersaing. Starlink menawarkan kecepatan hingga 220 Mbps dengan teknologi satelit orbit rendah.
Namun, jaringan fiber optik milik provider lokal cenderung lebih stabil, terutama di wilayah perkotaan dengan infrastruktur yang sudah matang.
Bahkan, beberapa layanan fiber mampu menawarkan kecepatan hingga 300 Mbps dengan latensi yang lebih rendah.
Meski kalah dalam hal harga, Starlink memiliki keunggulan besar dalam jangkauan. Teknologi satelit memungkinkan layanan ini digunakan di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan fiber optik.
Hal ini menjadikan Starlink sebagai solusi alternatif bagi masyarakat di wilayah blank spot atau daerah dengan infrastruktur internet terbatas.
Sebaliknya, provider lokal masih bergantung pada jaringan kabel, sehingga jangkauannya terbatas di wilayah tertentu, terutama kota besar.
Jika dilihat secara menyeluruh, Starlink dan provider lokal sebenarnya tidak sepenuhnya bersaing secara langsung. Keduanya memiliki segmentasi pasar yang berbeda.
Starlink lebih ditujukan untuk pengguna di daerah yang sulit mendapatkan akses internet stabil, sementara provider lokal tetap menjadi pilihan utama di wilayah perkotaan karena harga yang lebih murah dan koneksi yang lebih stabil.
Dengan demikian, pilihan layanan internet terbaik sangat bergantung pada kebutuhan dan lokasi pengguna.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1