RADARLAMPUNG.CO.ID - Kota Bandar Lampung bukan hanya sekadar gerbang masuk Pulau Sumatera, tapi juga saksi bisu perjalanan sejarah panjang yang membentuk wajah Provinsi Lampung saat ini.
Dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga pascakemerdekaan, sejarah Kota Bandar Lampung menyimpan jejak penting yang memperlihatkan transformasi sebuah kota pesisir menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan yang dinamis.
Sejarah Kota Bandar Lampung
Perjalanan sejarah Kota Bandar Lampung bermula dari masa kolonial Hindia Belanda. Kala itu, wilayah ini dikenal dengan nama Onder Afdeling Telokbetong, yang resmi dibentuk berdasarkan Staatsblad tahun 1912 Nomor 462. Wilayahnya mencakup Ibukota Telokbetong dan daerah sekitar, termasuk Tanjungkarang yang berjarak sekitar lima kilometer di utara kota.
Menariknya, sebelum tahun 1912, Telokbetong sudah menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan di pesisir selatan Sumatera. Ibukota Onder Afdeling Telokbetong ditetapkan di Tanjungkarang, sementara Telokbetong berfungsi sebagai pusat administrasi Keresidenan Lampung.
Kedua wilayah ini berdiri secara mandiri dan dipimpin oleh seorang Asisten Demang yang berada di bawah otoritas Hoof Van Plaatsleyk Bestuur, kepala pemerintahan lokal Telokbetong saat itu.
Masa Pendudukan Jepang di Tanjungkarang–Telokbetong
Ketika Jepang mengambil alih kekuasaan di Indonesia, sistem pemerintahan di wilayah Lampung juga ikut berubah. Kota Tanjungkarang–Telokbetong kemudian dijadikan sebagai Si (kota) dan dipimpin oleh seorang Sicho dari bangsa Jepang, dengan dibantu Fuku Sicho yang berasal dari Indonesia. Masa ini menandai babak baru dalam struktur pemerintahan lokal, meski rakyat menghadapi tekanan berat akibat kebijakan militer Jepang yang ketat.
Transformasi Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, dua kota utama (Tanjungkarang dan Telokbetong) masuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan tata pemerintahan, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 resmi memisahkan keduanya dari kabupaten tersebut. Sejak saat itu, nama Kota Tanjungkarang–Telukbetung mulai dikenal luas sebagai pusat aktivitas baru di Lampung.
Perkembangan terus berlanjut hingga tahun 1965, ketika status Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Provinsi Lampung berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965. Seiring itu pula, Tanjungkarang–Telukbetung resmi berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang–Telukbetung, sekaligus ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Lampung.
Transformasi besar berikutnya terjadi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1983. Dari keputusan tersebut, nama kota berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung, sebagaimana tercantum dalam Lembaran Negara Nomor 30 Tahun 1983. Perubahan administratif ini menandai pengakuan resmi atas identitas Bandar Lampung sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian provinsi.
Pada tahun 1999, melalui Keputusan Wali Kota Bandar Lampung Nomor 17 Tahun 1999, istilah "Kotamadya" resmi diganti menjadi "Pemerintah Kota Bandar Lampung". Nama ini terus digunakan hingga sekarang sebagai simbol kemajuan dan kemandirian daerah.
Hari Jadi Kota Bandar Lampung
Setiap kota memiliki kisah kelahiran yang unik, begitu juga dengan Bandar Lampung. Berdasarkan catatan sejarah yang ditemukan, salah satunya laporan Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Cornelis pada 17 Juni 1682, disebutkan bahwa di tepi laut Telokbetong sudah berdiri pemerintahan lokal di bawah Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi sekitar 3.000 penduduk. Fakta ini tercatat dalam arsip VOC (halaman 777 dan seterusnya) dan menjadi salah satu sumber penting dalam penetapan hari jadi kota.
Melalui simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang–Telukbetung pada 18 November 1982 serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1983 tanggal 26 Februari 1983, akhirnya disepakati bahwa hari jadi Kota Bandar Lampung adalah 17 Juni 1682. Tanggal ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga refleksi panjang perjalanan masyarakat Lampung membangun identitas kotanya dari masa ke masa.
Pemimpin Kota Bandar Lampung dari Masa ke Masa
Sejak resmi berdiri sebagai kota, Bandar Lampung telah dipimpin oleh sejumlah tokoh penting yang berperan besar dalam membangun fondasi pemerintahan dan infrastruktur. Berikut daftar wali kota Bandar Lampung dari masa ke masa:
| No | Nama Wali Kota | Periode Jabatan |
|---|---|---|
| 1 | Sumarsono | 1956 – 1957 |
| 2 | H. Zainal Abidin Pagar Alam | 1957 – 1963 |
| 3 | Alimudin Umar, SH | 1963 – 1969 |
| 4 | Drs. H.M. Thabranie Daud | 1969 – 1976 |
| 5 | Drs. H. Fauzi Saleh | 1976 – 1981 |
| 6 | Drs. Zulkarnain Subing | 1981 – 1986 |
| 7 | Drs. Nurdin Muhayat | 1986 – 1991 |
| 8 | Drs. Suharto | 1996 – 2005 |
| 9 | Drs. Eddy Sutrisno, M.Pd. | 2005 – 2010 |
| 10 | Drs. H. Herman HN, MM | 2010 – 2021 |
| 11 | Hj. Eva Dwiana, S.E., M.Si. | 2021 – Sekarang |
Setiap pemimpin membawa arah dan visi berbeda, tetapi semuanya berkontribusi terhadap perkembangan pesat yang menjadikan Bandar Lampung seperti sekarang, sebuah kota metropolitan dengan dinamika sosial dan budaya yang kuat.
Kota Bandar Lampung Kini
Kini, Kota Bandar Lampung bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Provinsi Lampung, tetapi juga jantung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pariwisata di selatan Sumatera.
Dari Telukbetung hingga Tanjungkarang, geliat kehidupan warganya mencerminkan semangat modernisasi yang berpadu dengan nilai-nilai sejarah.
Kita bisa melihat bagaimana warisan masa lalu tetap hidup dalam arsitektur, tradisi, hingga nama-nama wilayah yang masih digunakan. Semua itu menjadi pengingat bahwa Bandar Lampung tumbuh bukan dalam semalam, tetapi melalui proses panjang sejak 1682 hingga kini.
Kota Bandar Lampung akan selalu menjadi saksi perjalanan sejarah, tempat di mana masa lalu dan masa depan berpadu membentuk identitas yang kuat di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai ini.