RADARLAMPUNG.CO.ID – Anfield kembali menjadi panggung yang tidak hanya menguji kualitas, tetapi juga menguji ketenangan.
Didukung publik merah Merseyside, dan diam diam juga oleh sebagian merah London Utara yang berharap Manchester City terpeleset, Liverpool bersiap menyambut duel besar yang kerap memengaruhi arah persaingan papan atas.
Pertandingan Liverpool vs Manchester City akan digelar Minggu, 8 Februari 2026 pukul 23.11 WIB di Anfield, dalam lanjutan Premier League pekan ke 25.
Liverpool memasuki pekan ini dalam posisi yang belum sepenuhnya aman.
Mereka berada empat tingkat di bawah City dan terpaut delapan poin, tetapi keduanya datang dengan grafik yang sama dalam enam laga liga terakhir, yaitu satu kemenangan, empat hasil imbang, dan satu kekalahan.
Kesamaan itu membuat laga ini tidak sekadar bicara reputasi dua raksasa, melainkan bicara siapa yang paling siap menuntaskan detail kecil ketika pertandingan mulai memasuki fase menentukan.
Di kubu tuan rumah, awal 2026 sempat berjalan seret.
Liverpool lebih dulu melewati empat hasil imbang beruntun lalu terpeleset dari Bournemouth, sampai akhirnya menemukan bentuk permainan yang lebih meyakinkan saat menghajar Newcastle 4 1.
Mereka sempat tertinggal oleh gol Anthony Gordon, tetapi responsnya cepat dan rapi, dengan Hugo Ekitike dan Florian Wirtz menjadi pusat ledakan yang mengubah arah laga.
Kebiasaan bangkit seperti itu memang sudah menjadi ciri Liverpool sejak musim sebelumnya.
Sejak awal 2024-2025, mereka disebut mengumpulkan 28 poin di Premier League pada laga laga ketika kebobolan lebih dulu, sehingga kemampuan membalikkan keadaan tetap menjadi senjata yang relevan hingga sekarang.
Hal itu terasa semakin berbahaya ketika ketajaman ikut naik, karena Liverpool sudah mencetak 15 gol dalam empat laga terakhir di semua kompetisi, termasuk saat mengalahkan Qarabag 6 0 dan Marseille 3 0 di Liga Champions.
Namun produksi gol itu belum otomatis menjamin posisi ideal.
Target lima besar masih belum sepenuhnya berada di tangan Liverpool, karena mereka memulai pekan ini masih berada tepat di belakang pesaing terdekat, sementara satu hasil buruk bisa membuka peluang tim lain ikut menyalip.
Oleh karena itulah laga melawan City terasa seperti ujian yang bukan hanya soal gengsi, tetapi juga soal konsistensi untuk mempertahankan peluang.
Manchester City datang dengan tekanan yang berbeda.
Pekan lalu mereka membuang keunggulan saat ditahan Tottenham 2 2, padahal sempat memimpin lewat gol Rayan Cherki dan Antoine Semenyo.
City lalu terpukul oleh dua gol penyama dari Dominic Solanke, mantan penyerang Liverpool, dan hasil itu menambah daftar poin yang hilang dalam periode yang tidak ideal.
Faktanya, City kini kehilangan poin dalam lima dari enam laga liga terakhir, sehingga jarak dengan Arsenal melebar menjadi enam poin.
Kondisi itu makin terasa ketika performa tandang ikut menurun, karena City tidak menang dalam tiga laga tandang terakhir dan selalu kebobolan minimal dua gol pada setiap laga tersebut.
Meski begitu, mereka tetap membawa modal kepercayaan diri setelah menyingkirkan Newcastle 3 1 di leg kedua semifinal EFL Cup pada pertengahan pekan, yang sekaligus memastikan langkah menuju Wembley tetap terbuka.
Di sisi historis, Liverpool dan City juga selalu menyimpan narasi tersendiri.
Skor yang paling sering muncul dalam pertemuan keduanya adalah 1 1 dan itu tercatat terjadi 10 kali.
Akan tetapi, ada konteks besar yang membuat Anfield terasa berbeda, karena Liverpool disebut tidak kalah dalam 26 dari 27 laga kandang terakhir melawan City di semua kompetisi.
Catatan itu membuat City seolah selalu harus memulai dari nol setiap kali datang ke stadion ini, bahkan ketika mereka baru saja menang 3 0 atas Liverpool pada pertemuan November dan berpeluang mencatatkan double liga pertama atas The Reds.
Memasuki laga ini, kabar skuad juga ikut memengaruhi cara kedua tim mempersiapkan pertandingan.
Arne Slot masih menunggu kondisi Joe Gomez yang punya peluang tipis pulih tepat waktu, sementara Jeremie Frimpong belum siap kembali.
Liverpool juga masih kehilangan Conor Bradley, Giovanni Leoni, dan Alexander Isak.
Di tengah keterbatasan itu, Slot tampaknya tidak punya alasan besar untuk mengubah formula yang berhasil saat menghajar Newcastle.
Apalagi Wirtz sedang dalam fase paling produktif, karena ia mencatat sembilan keterlibatan gol dalam 11 laga terakhirnya, lebih banyak dari pemain Premier League lain pada periode tersebut.
Dari kubu City, Guardiola masih belum memastikan ketersediaan Bernardo Silva setelah sang gelandang mengalami masalah saat menghadapi Tottenham dan tidak tampil ketika menyingkirkan Newcastle.
City mendapat kabar baik karena Rayan Cherki sudah cukup bugar untuk tampil sebagai pemain pengganti, dan Ruben Dias juga kembali masuk skuad setelah absen cukup lama.
Sementara itu, beberapa nama masih berada dalam daftar cedera, termasuk Doku, Gvardiol, Kovacic, Stones yang belum siap bermain, serta Savinho.
City juga punya tambahan opsi karena Marc Guehi kembali tersedia setelah sebelumnya tidak bisa dimainkan di EFL Cup.
Performa Terakhir Liverpool
01/02/26 – Liverpool 4–1 Newcastle (M)
29/01/26 – Liverpool 6–0 Qarabag (M)
25/01/26 – Bournemouth 3–2 Liverpool (K)
22/01/26 – Marseille 0–3 Liverpool (M)
17/01/26 – Liverpool 1–1 Burnley (S)
Performa Terakhir Manchester City
05/02/26 – Manchester City 3–1 Newcastle (M)
01/02/26 – Tottenham 2–2 Manchester City (S)
29/01/26 – Manchester City 2–0 Galatasaray (M)
24/01/26 – Manchester City 2–0 Wolves (M)
21/01/26 – Bodo/Glimt 3–1 Manchester City (K)
Head to Head (5 pertemuan terakhir)
09/11/25 – Manchester City 3–0 Liverpool
23/02/25 – Manchester City 0–2 Liverpool
01/12/24 – Liverpool 2–0 Manchester City
10/03/24 – Liverpool 1–1 Manchester City
25/11/23 – Manchester City 1–1 Liverpool
Perkiraan Susunan Pemain
Liverpool (4-2-3-1): Alisson, Szoboszlai, Konate, Van Dijk, Kerkez, Mac Allister, Gravenberch, Salah, Wirtz, Gakpo, Ekitike.
Manchester City (4-2-3-1): Donnarumma, Nunes, Khusanov, Ake, Ait Nouri, Rodri, O Reilly, Cherki, Bernardo, Semenyo, Haaland.
SportMole melihat Liverpool sebagai versi yang lebih berbahaya dibanding saat dibantai di Etihad.
City dinilai sedang bermasalah dalam laga tandang, lalu kondisi fisik dan absennya beberapa pemain bertahan bisa menjadi celah yang dieksploitasi Liverpool.
Dalam skenario adu serangan, SportMole menjagokan Liverpool menang 3 2, dengan alasan kombinasi Salah, Wirtz, dan Ekitike sedang berada pada fase yang sinkron.
Selanjutnya, Opta Analyst menegaskan keunggulan tipis Liverpool lewat angka probabilitas.
Model mereka menempatkan peluang kemenangan Liverpool di 42,7 persen, sementara City 30,7 persen, dan sisanya mengarah pada hasil imbang.
Angka ini menyiratkan bahwa faktor kandang memang memberi pengaruh besar, tetapi pertandingan tetap berada di zona ketat karena City masih memiliki kualitas untuk merusak prediksi melalui kontrol permainan dan efektivitas.
Di sisi lain, WhoScored kemudian memberi konteks yang membuat skenario imbang juga masuk akal.
Mereka menyoroti betapa kuatnya Liverpool di Anfield saat menghadapi City, sekaligus mengakui bahwa City tetap punya daya gedor yang cukup untuk mencetak gol bahkan ketika tren tandang sedang tidak ideal.
Dari kombinasi itu, WhoScored mengarah pada skor 2 2, sebuah hasil yang selaras dengan karakter duel Liverpool City yang sering berakhir saling balas.
Jika semua konteks itu dirangkai, pertandingan ini terasa seperti duel dua arus.
Liverpool akan mencoba mengunci City dengan pressing dan transisi cepat, sedangkan City akan berupaya mematikan ritme melalui penguasaan bola dan mencari celah ketika Liverpool mulai menaikkan garis pertahanan.
Dengan Liverpool yang sedang subur dan City yang tetap tajam meski rapuh di belakang, skor imbang dengan gol dari kedua tim menjadi skenario yang paling rasional.
Prediksi skor akhir: Liverpool 2 2 Manchester City.
*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1