Era LCGC Mulai Tergeser, Harga EV Makin Dekat, Leasing Kini Kejar Pembiayaan Mobil Listrik

gambar-user/vsbaohl95I0rY7S5BRF4IPxfUmd3n0dZuZDBnGyU.webp
M. Nabil Mamnun - Kamis, 19 Feb 2026 - 06:30 WIB
Penjualan LCGC Januari 2026 tercatat turun secara tahunan, sementara pasar mobil nasional masih bergerak stabil.
Penjualan LCGC Januari 2026 tercatat turun secara tahunan, sementara pasar mobil nasional masih bergerak stabil. - instagram/@iims.id

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

RADARLAMPUNG.CO.ID - Pasar mobil Indonesia membuka 2026 dengan sinyal yang tidak sepenuhnya searah.

Di satu sisi, penjualan nasional secara wholesales justru naik. Namun di sisi lain, segmen mobil murah ramah lingkungan atau LCGC terlihat melemah dan mulai kehilangan momentum, terutama ketika kendaraan elektrifikasi makin gencar diburu konsumen dan lembaga pembiayaan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan wholesales mobil Januari 2026 mencapai 66.447 unit, naik 7 persen dibanding Januari 2025.

Akan tetapi, penjualan LCGC pada periode yang sama turun.

Advertisements

Masih merujuk data Gaikindo yang dikutip sejumlah laporan, total penjualan LCGC Januari 2026 tercatat 10.694 unit, lebih rendah dibanding Januari 2025 yang mencapai 13.782 unit.

Pelemahan LCGC ini tidak otomatis dibaca sebagai rem bagi industri pembiayaan.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia justru menilai koreksi LCGC lebih merefleksikan pergeseran preferensi konsumen ke kendaraan elektrifikasi yang makin mudah dijangkau, terutama ketika rentang harga mobil listrik mulai mendekati segmen mobil murah.

Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno menilai penurunan tersebut perlu dilihat berpasangan dengan kenaikan di segmen lain.

Advertisements

“Kalau dibilang turun kan mesti dilihat mana yang naik, kan yang banyak naik mobil mobil listrik. Ya artinya apa, bergeser dan karena mobil listrik ini harganya juga hampir sama dengan mobil mobil LCGC,” ujarnya.

Ia menambahkan, pergeseran itu tidak membuat pembiayaan ikut lesu karena perusahaan pembiayaan juga ikut berpindah fokus. 

“Nah, buat di pembiayaan ya tentu yang listrik kan juga udah banyak perusahaan pembiayaan yang masuk membiayai mobil listrik. Jadi, cuma masalah geser saja,” tegasnya.

Contoh pergeseran minat juga tampak dari semakin populernya kendaraan elektrifikasi non BEV. Suwandi menyinggung respons pasar terhadap model hybrid yang cepat terserap.

Advertisements

“Memang ini karena faktor persaingan saja dan bergeser,” katanya.

Ia menilai penerimaan masyarakat terhadap elektrifikasi kian membaik karena pengisian daya di kota besar makin mudah dijumpai.

Sementara itu, dari sisi data industri multifinance, tren pembiayaan kendaraan listrik memang menunjukkan pembesaran portofolio.

OJK mencatat pembiayaan kendaraan listrik industri multifinance mencapai Rp21,31 triliun per November 2025 dan tumbuh 1,99 persen secara bulanan.

Advertisements

OJK juga menilai pembiayaan kendaraan listrik masih berpeluang terus bertumbuh pada 2026, meski insentif tertentu tidak lagi diperpanjang.

Dengan catatan perusahaan pembiayaan memperkuat manajemen risiko dan menyesuaikan skema pembiayaan sesuai karakteristik EV.

Sinyal serupa muncul dari pelaku pembiayaan. Adira Finance, misalnya, membukukan penyaluran pembiayaan kendaraan listrik sebesar Rp750 miliar sepanjang 2025.

Perusahaan menyebut lebih dari 90 persen portofolionya didominasi EV roda empat, yang menunjukkan pembiayaan mobil listrik menjadi mesin pertumbuhan baru di segmen elektrifikasi.

Advertisements

Dengan dinamika ini, pelemahan LCGC pada awal 2026 lebih tepat dibaca sebagai perubahan peta persaingan ketimbang berhentinya minat beli.

LCGC tetap punya basis pengguna besar, tetapi daya tariknya kini harus berhadapan dengan dua hal sekaligus, yakni selektivitas kredit di segmen pembeli pertama dan munculnya alternatif elektrifikasi yang makin kompetitif.

Di sisi pembiayaan, arusnya tidak berhenti, melainkan berpindah mengikuti arah permintaan pasar.

*)Peserta Magang Kemnaker Batch 1

Advertisements

 

Share:
Editor: Dian Saptari
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements