RADARLAMPUNG.CO.ID - Isu keamanan perangkat seluler kembali menjadi perbincangan hangat pada 2025, terutama dalam membandingkan sistem operasi iOS milik Apple Inc dan Android yang dikembangkan Google LLC.
Meningkatnya intensitas serangan siber terhadap smartphone membuat pengguna semakin kritis dalam memilih platform yang dinilai paling aman.
Apple sejak awal membangun iOS dengan konsep ekosistem tertutup.
Distribusi aplikasi dilakukan secara terpusat melalui App Store yang berada di bawah kendali penuh perusahaan.
Setiap aplikasi yang ingin tersedia bagi pengguna harus melalui proses kurasi dan peninjauan ketat sebelum dipublikasikan.
Keunggulan lain dari pendekatan Apple adalah kontrol penuh terhadap pembaruan sistem.
Perusahaan dapat merilis update iOS secara serentak ke seluruh perangkat iPhone yang masih mendapat dukungan.
Skema ini memungkinkan tambalan keamanan (security patch) didistribusikan secara cepat dan merata, sehingga mengurangi celah eksploitasi.
Dari sisi teknis, iOS menerapkan sistem sandboxing yang membatasi ruang gerak aplikasi.
Setiap aplikasi berjalan dalam lingkungan terisolasi dan tidak dapat mengakses data aplikasi lain tanpa izin eksplisit dari pengguna.
Apple juga mengaktifkan enkripsi perangkat secara default serta memanfaatkan komponen keamanan khusus seperti Secure Enclave untuk melindungi data biometrik dan informasi sensitif.
Sementara itu, Android dikembangkan dengan pendekatan sumber terbuka melalui Android Open Source Project.
Sistem ini memungkinkan berbagai produsen perangkat melakukan modifikasi sesuai kebutuhan mereka.
Fleksibilitas tersebut membuat Android memiliki jangkauan pasar yang jauh lebih luas secara global.
Distribusi aplikasi Android umumnya dilakukan lewat Google Play Store, namun platform ini juga mengizinkan instalasi aplikasi dari sumber pihak ketiga.
Di satu sisi, model ini memberi kebebasan lebih besar bagi pengguna dan pengembang.
Untuk memperkuat perlindungan, Google menghadirkan fitur pemindaian otomatis bernama Google Play Protect yang secara rutin memeriksa aplikasi terpasang, baik dari toko resmi maupun luar toko.
Layanan ini dirancang mendeteksi malware, aktivitas mencurigakan, hingga potensi pelanggaran kebijakan keamanan.
Perbedaan mencolok juga terlihat pada mekanisme pembaruan.
Pada ekosistem Android, distribusi update sistem utama sering kali bergantung pada produsen perangkat dan operator seluler, yang memunculkan isu fragmentasi.
Untuk mengatasinya, Google memperkenalkan pembaruan modular melalui Project Mainline, sehingga komponen keamanan tertentu bisa diperbarui langsung melalui layanan Google tanpa menunggu update sistem penuh.
Secara statistik global, laporan sejumlah perusahaan keamanan siber menunjukkan bahwa ancaman malware lebih banyak ditemukan pada perangkat Android.
Faktor penyebabnya antara lain skala pengguna yang lebih besar dan opsi pemasangan aplikasi dari luar toko resmi.
Meski demikian, iPhone bukan berarti kebal ancaman. Eksploitasi zero-day dan spyware canggih tetap pernah menargetkan perangkat iOS, khususnya pada serangan yang bersifat terarah.
Di kawasan Uni Eropa, regulasi seperti Digital Markets Act mulai memengaruhi lanskap keamanan iOS.
Aturan tersebut mendorong Apple membuka opsi distribusi aplikasi alternatif di wilayah tertentu.
Perubahan ini dinilai berpotensi menggeser model tertutup yang selama ini menjadi fondasi keamanan iOS, meski Apple tetap menerapkan sistem notarisasi dan standar keamanan tambahan.
Pada akhirnya, baik iOS maupun Android mengandalkan kombinasi enkripsi, autentikasi biometrik, pengelolaan izin aplikasi, serta pembaruan rutin untuk menjaga keamanan pengguna.
Perbedaan mendasar terletak pada filosofi pengelolaan ekosistem, Apple menitikberatkan kontrol terpusat dan integrasi perangkat keras-perangkat lunak, sedangkan Google menonjolkan keterbukaan dan kolaborasi lintas manufaktur.
*(Peserta Magang Kemnaker Batch 1