RADARLAMPUNG.CO.ID - Nilai kerukunan umat beragama menjadi salah satu pilar utama dalam visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan komitmen tersebut melalui program Asta Protas, yang menempatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai prioritas pembangunan nasional.
Kabag TU Kanwil Kemenag Lampung, Marwansyah, mengatakan menjaga harmoni di tengah keberagaman bangsa membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
“Indonesia memiliki kemajemukan luar biasa. Karena itu, menjaga dan memupuk kerukunan umat beragama harus dilakukan secara holistik,” ujarnya dalam acara Ngopi Kerukunan, Rabu 12 November 2025.
Acara tersebut mengusung tema Konten Damai, Komentar Bijak: Peran Penggiat Kerukunan dan Masyarakat Lintas Agama dalam Merawat Harmoni di Media Sosial.
Menurutnya, tantangan kerukunan saat ini tidak lagi muncul dalam bentuk konflik terbuka, melainkan melalui misinformasi, provokasi, dan ujaran kebencian di media sosial.
Dalam konteks itu, literasi digital menjadi bagian penting dalam membangun kerukunan yang berkelanjutan.
“Ruang-ruang dialog seperti Ngopi Kerukunan ini bukan sekadar seremonial, tapi wadah reflektif untuk menyeduh nilai-nilai kedamaian dan meneguhkan toleransi,” jelas Marwansyah.
Ia menambahkan, semangat tersebut sejalan dengan Trilogi Kerukunan Jilid II Kemenag yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Keseimbangan ini diharapkan dapat mendeteksi potensi gesekan sosial sejak dini melalui penguatan Early Warning System Kerukunan.
Kemenag juga mendorong kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tokoh agama, media, dan masyarakat untuk menjaga harmoni sosial.
“Penggiat kerukunan dan insan media harus menjadi influencer kerukunan. Gunakan narasi dan teknologi untuk menebar kesejukan, bukan perpecahan,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung, Prof. M. Baharuddin, menyebut kondisi kerukunan di Lampung masih relatif kondusif.
Namun, ia menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap dampak negatif media sosial, terutama bagi generasi muda.
“Generasi Z adalah pengguna media sosial paling aktif. Mereka perlu dibekali pemahaman agar bermedia sosial secara cerdas, bijak, dan etis,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, FKUB berencana memperluas program FKUB Goes to School untuk menanamkan nilai toleransi, etika digital, dan semangat kebangsaan di sekolah-sekolah.
Terkait indeks kerukunan umat beragama, Baharuddin menyebut Lampung masih berada pada kategori baik, meski belum melampaui rata-rata nasional.
Ia menilai tantangan di beberapa daerah masih terkait dengan keterwakilan organisasi keagamaan dan dukungan pemerintah kabupaten/kota.
“Kami terus memperkuat komunikasi dan memperluas representasi agar semua pihak merasa dilibatkan dalam menjaga harmoni,” pungkasnya.