RADARLAMPUNG.CO.ID - Detak jantung normal pada orang dewasa saat sedang beristirahat umumnya berada di kisaran 60–100 kali per menit.
Jika jumlah detak jantung melebihi angka tersebut, seseorang dapat merasakan sensasi jantung berdebar atau berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dalam beberapa kondisi, jantung berdebar dapat menjadi tanda adanya gangguan pada jantung.
Biasanya kondisi ini disertai gejala lain seperti nyeri dada yang menjalar ke bahu atau punggung, pusing, mual, keringat dingin, sesak napas, hingga tubuh terasa lemas.
Namun, tidak semua kasus jantung berdebar berkaitan dengan penyakit jantung. Banyak faktor lain yang juga dapat memicu kondisi ini, baik yang tergolong ringan maupun serius.
Faktor gaya hidup seperti olahraga terlalu berat, stres atau kecemasan, kurang tidur, kelelahan, kebiasaan merokok, serta konsumsi kafein, alkohol, atau makanan pedas juga dapat menyebabkan jantung berdebar.
Meski sering kali tidak berbahaya, kondisi ini perlu diwaspadai jika terjadi terus-menerus atau disertai keluhan lain.
Dalam beberapa kasus, jantung berdebar bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu.
Salah satu penyebabnya adalah anemia, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah.
Penderita anemia biasanya mengalami kelelahan, wajah tampak pucat, sesak napas, serta jantung berdetak lebih cepat.
Selain itu, dehidrasi juga dapat memicu jantung berdebar. Saat tubuh kekurangan cairan, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Gejala lain yang dapat muncul antara lain tubuh lemas, bibir kering, urine berwarna lebih pekat, atau frekuensi buang air kecil berkurang.
Demam juga dapat membuat detak jantung meningkat.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika suhu tubuh mencapai lebih dari 38 derajat Celsius, yang sering disebabkan oleh infeksi atau peradangan. Gejala yang menyertai antara lain pusing, nyeri tubuh, dan rasa lemas.
Di sisi lain, serangan panik juga bisa menimbulkan jantung berdebar secara tiba-tiba.
Saat mengalami kondisi ini, seseorang dapat merasakan keringat dingin, gemetar, mual, pusing, hingga perasaan takut atau cemas yang sangat kuat.
Pada wanita, perubahan hormon juga dapat memicu jantung berdebar. Kondisi ini sering terjadi saat kehamilan, menstruasi, atau menopause, dan biasanya bersifat sementara serta tidak berbahaya.
Selain faktor-faktor tersebut, jantung berdebar juga dapat muncul sebagai efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti obat tekanan darah tinggi, antibiotik, obat asma, antihistamin, obat gangguan tiroid, hingga obat dekongestan.
Apabila jantung berdebar disebabkan oleh penyakit jantung, kondisi ini perlu segera mendapatkan penanganan medis.
Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan jantung dapat berujung pada komplikasi serius seperti henti jantung bahkan kematian.
Namun pada banyak kasus, jantung berdebar yang muncul sesekali dan tidak disertai gejala lain biasanya tidak memerlukan penanganan khusus.
Meski demikian, pemeriksaan ke dokter tetap dianjurkan untuk memastikan penyebabnya.
Untuk membantu meredakan keluhan jantung berdebar, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan, di antaranya dengan Menghindari pemicu seperti rokok, kafein, minuman berenergi, dan obat tertentu, mengelola stres dengan teknik relaksasi seperti yoga atau meditasi dan Mendapatkan istirahat yang cukup, minimal 7 jam tidur setiap malam.
*(Peserta Magang Kemnaker Batch 1