RADARLAMPUNG.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat inflasi pada Maret 2026 tetap terkendali meski bertepatan dengan momentum Ramadan.
Secara bulanan (month-to-month), inflasi hanya sebesar 0,19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang sempat menyentuh 1,96 persen.
Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Lampung Muhammad Sabiel Adi Prakasa mengatakan, kondisi ini menunjukkan stabilitas harga yang cukup terjaga di tengah meningkatnya permintaan selama Ramadan.
“Tekanan inflasi pada Maret 2026 relatif landai dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan pasokan yang cukup baik serta daya beli masyarakat yang masih terkendali,” ujarnya dalam rilis, Rabu, 1 April 2026.
Secara kelompok pengeluaran, inflasi bulanan tertinggi terjadi pada sektor rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,11 persen, namun kontribusinya terhadap inflasi umum tergolong kecil.
Sebaliknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya mengalami inflasi 0,31 persen, tetapi memberikan andil terbesar terhadap inflasi total, yakni 0,10 persen.
Di sisi lain, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 0,49 persen, yang turut menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Dari sisi komoditas, daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,05 persen, disusul bensin, telur ayam ras, beras, dan vitamin.
Sementara itu, cabai merah menjadi komoditas penahan inflasi terbesar dengan andil deflasi mencapai -0,09 persen, diikuti celana jeans pria, tomat, obat gosok, dan emas perhiasan.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Lampung pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,16 persen, lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 1,58 persen.
Sabiel menjelaskan inflasi tahunan terutama didorong kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi 8,78 persen.
Kelompok tersebut memberikan andil terbesar sebesar 1,03 persen, dengan tarif listrik menjadi komoditas utama penyumbang inflasi tahunan.
“Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara persentase, yakni 9,55 persen, meskipun kontribusinya tidak sebesar sektor perumahan,” jelasnya.
Menariknya, kelompok pendidikan justru mengalami deflasi terdalam hingga 17,97 persen, dengan andil deflasi sebesar 1,19 persen, sehingga membantu menekan inflasi tahunan.
BPS juga mencatat variasi inflasi di empat daerah cakupan IHK, dengan inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Metro sebesar 1,62 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan terendah terjadi di Kabupaten Lampung Timur sebesar 1,05 persen.
Untuk inflasi bulanan, Kabupaten Mesuji mencatat angka tertinggi sebesar 0,80 persen.
Adapun inflasi bulanan terendah kembali terjadi di Lampung Timur sebesar 0,04 persen.
Secara keseluruhan, Sabiel menegaskan bahwa kondisi inflasi di Lampung pada Maret 2026 masih dalam kategori aman dan terkendali.
“Baik secara bulanan maupun tahunan, inflasi Lampung masih berada pada level yang stabil. Ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah di tengah momentum Ramadan,” tandasnya.(*)